favorite quote-6

July 31, 2008

…Don’t find love, let love find you…That’s why it’s called falling in love, because you don’t force yourself to fall, you just fall…

~anonym~

Advertisements

Apa itu DANA (Dynamic Actor Network Analysis)?

July 31, 2008

DANA..

atau lengkapnya adalah Dynamic Actor Network Analysis adalah salah satu jenis simulasi yang digunakan dalam policy analysis untuk mensimulasikan suatu kondisi dimana terdapat banyak aktor di dalamnya. Seperti yang sudah disebutkan bahwa simulasi adalah suatu tools (alat) untuk menampilkan suatu kondisi/setting yang kita buat. Seperti apa kondisinya, maka itu berdasarkan input yang kita berikan terhadap simulasi tersebut.

Menurut bung wikipedia,

Simulation is the imitation of some real thing, state of affairs, or process. The act of simulating something generally entails representing certain key characteristics or behaviours of a selected physical or abstract system.

Untuk menerapkan suatu sistem baru, maka diperlukan suatu ketepatan perencanaan, yang didalamnya menetapkan seperti apa kondisi yang memungkinkan sehingga sistem itu sendiri dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Ketika seseorang atau perusahaan memiliki perencanaan untuk mengaplikasikan suatu sistem dalam perusahaannya, maka saat sistem itu optimal, sesuai, tepat atau tidak digunakan, hal tersebut merupakan tantangan yang mau tidak mau harus dihadapi, ketika sistem tersebut tepat, maka perusahaan akan memperoleh keuntungan/target sesuai yang diharapkan. Tapi saat kondisi yang terjadi adalah sebaliknya, maka kerugian besar atau bahkan berhentinya sistem produksi menjadi ancaman dan risiko yang dihadapi pihak perusahaan.

Suatu perancanaan sebelum diterapkan pastilah ada suatu tahap uji coba. Tahap uji coba ini ketika kita memilih untuk menerapkan dalam lingkungan kecil yang didesain menyerupai rancangan baru, maka tetap akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Atau pilihan lain, hanya untuk menekan besar biaya, maka perusahaan cukup mempercayakan rancangan baru tersebut berdasarkan analisis forecast atau prediksi yang dibuat dengan hitungan matematis tanpa melihat seperti apa flow yang akan berjalan.

Maka untuk tetap melakukan uji coba, dengan berbagai macam input (kondisi yang kita set), dan tentu saja hanya membutuhkan biaya yang sedikit, simulasi adalah jawabannya. Berbagai macam simulasi ada dan dapat kita pilih sesuai dengan keinginan kita, dari simulasi statistik (Monte carlo, Crystall Ball), simulasi  sistem produksi(Pro model, Power sim), hingga ke simulasi analisis kebijakan(DANA).

Analisis kebijakan, dapat diabayangkan membutuhkan tidak hanya analisis secara kuantitatif tapi juga analisis secara kuantitatif, dan itu semua dapat disatukan oleh DANA.

Dalam DANA, terdapat banyak Actor, aktor adalah bagian dalam kebijakan (contoh:stakeholder) yang akan memperngaruhi pengambilan kebijakan tersebut. Terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui untuk dapat memperoleh hasil yang maksimal. Karena DANA bersifat semi kualitatif, maka kita harus dapat memperkecil ketidakpastian dengan memperisiapkan dari pra proses pengambilan data.

Dibawah ini merupakan user manual sederhana (made in dita:) dari penggunaan DANA itu sendiri:

Mengenai contoh aplikasi DANA, semoga bisa di ulas ditulisan selanjutnya,,tunggu ya..


Simulasi dalam Six Sigma

July 31, 2008

Six Sigma? semoga sudah tergambar sedikit mengenai hal tersebut dari tulisan sebelumnya..:)

sebelum kita berlanjut ke topik hari ini, coba kita kulik sedikit pengertian simulasi


Kisah 2- Umar Bin Abdul Aziz

July 31, 2008

Indahnya Akhlaq beliau….

Khalifah Umar bin Abdul Azis

,” campur saja susunya dengan air.” Tapi amirul mukminin Umar telah mengeluarkan peraturannya yang melarangnya,Ibu,” jawab anak gadisnya.”Khalifah Umar toh tidak akan mengetahuinya,” kilah sang Ibu.” Kalau Umar tidak mengetahuinya, tapi Allah pasti mengetahuinya, Ibu!”

Masih ingat kisah diatas?? Itulah awal mula nantinya akan lahir sesosok khalifah kedelapan yang tersohor adil dan zuhud itu.

Kisah Umar bin Abdul Azis dimulai dari kisah hikmah yang dialami Khalifah Umar bin Khottob R.A

Umar melamar gadis (anak wanita dalam kisah diatas) itu untuk dinikahkan dengan putranya Ashim. Pernikahan pun berlangsung. Dari hasil perkawinan itu lahir anak seorang perempuan yang kelak dinikahi oleh Abdul Azis bin Marwan. Dan kemudian lahirlah Umar bin Abdul Azis,Khalifah.

Beberapa kisah keteladanan Umar bi Abdul Azis:

Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan dibesarkan dalam sekolah Islam dan terdidik dengan ilmu Al-Qur’an. Ayahnya adalah seorang khalifah. Abdul Malik bin Marwan dan suaminya juga seorang khalifah, yakni Umar bin Abdul Aziz. Keempat saudaranya pun semua khalifah, yaitu Al Walid Sulaiman, Al Yazid, dan Hisyam.

Ketika Fatimah dipinang untuk Umar bin Abdul Aziz, pada waktu itu Umar masih layaknya orang kebanyakan bukan sebagai calon pemangku jabatan khalifah. Sebagai putera dan saudari para khalifah, perkawinan Fatimah dirayakan dengan resmi dan besar-besaran, dan ditata dengan perhiasan emas mutu-manikam yang tiada ternilai indah dan harganya. Namun sesudah perkawinannya usai, sesudah Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah dan Amirul Mukminin, Umar langsung mengajukan pilihan kepada Fatimah, isteri tercinta. Umar berkata kepadanya, “Isteriku sayang, aku harap engkau memilih satu di antar dua.”

Fatimah bertanya kepada suaminya, “Memilih apa, kakanda?”

Umar bin Abdul Azz menerangkan, “Memilih antara perhiasan emas berlian yang kau pakai atau Umar bin Abdul Aziz yang mendampingimu.”

“Demi Allah,” kata Fatimah, “Aku tidak memilih pendamping lebih mulia daripadamu, ya Amirul Mukminin. Inilah emas permata dan seluruh perhiasanku.”
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

Hikmah 1 : Kezuhudan beliau dan keluarganya
Kemudian Khalifah Umar bin Abdul Aziz menerima semua perhiasan itu dan menyerahkannya ke Baitulmal, kas Negara kaum muslimin. Sementara Umar bin Abdul Aziz dan keluarganya makan makanan rakyat biasa, yaitu roti dan garam sedikit.

Pada suatu hari raya puteri-puterinya datang kepadanya, “Ya Ayah, besok hari raya. Kami tidak punya baju baru…”
Mendengar keluhan puteri-puterinya itu, khalifah Umar berkata kepada mereka.
“Wahai puteri-puteriku sayang, hari raya itu bukan bagi orang yang berbaju baru, akan tetapi bagi yang takut kepada ancaman Allah.”

Mengetahui hal tersebut, pengelola baitulmal berusaha menengahi, “Ya Amirul Mukminin, kiranya tidak akan menimbulkan masalah kalau untuk baginda diberikan gaji di muka setiap bulan.”

Umar bin Abdul Aziz sangat marah mendengar perkataan pengurus Baitulmal. Ia berkata, “Celaka engkau! Apakah kau tahu ilmu gaib bahwa aku akan hidup hingga esok hari!?”

Hikmah 2 : Menyadari beratnya tanggung jawab seorang pemimpin

Ketika Umar bin Abdul Azis mendapat promosi, dari Gubernur Madinah menjadi Khalifah, ia menangis dan pingsan. Ia menyatakan, bahwa beban kewajiban seberat ribuan gunung telah diletakan kepundaknya, pada hal untuk mengurus diri sendiri pun ia merasa belum mampu. Sekarang di beri amanah mengurus umat. Setelah Umat bin Abdul Azis RA dilantik menjadi Khalifah, beliau pergi ke mushallahnya dan menangis tersedu-sedu. Ketika di tanyakan kepadanya tentang penyebab tangisnya, beliau menjawab,” aku memikul amanat umat ini dan aku tangisi orang -orang yang menjadi amanat atasku, yaitu kaum fakir miskin yang lemah dan lapar, ibnu sabil yang kehilangan tujuan dan terlantar, orang-orang yang di zalimi dan di paksa menerimanya, orang-orang yang banyak anaknya dan berat beban hidupnya. Merasa bertanggung jawab atas beban mereka, karena itu, aku menangisi diriku sendiri karena beratnya amanat atas diriku.”

Konon semasa ia menjabat sebagai Khalifah, tak satu pun mahluk dinegerinya menderita kelaparan. Tak ada serigala mencuri ternak penduduk kota, tak ada pengemis di sudut-sudut kota, tak ada penerima zakat karena setiap orang mampu membayar zakat. Lebih mengagumkan lagi, penjara tak ada penghuninya. Sejak di angkat menjadi Khalifah Umar bertekad, dalam hatinya ia berjanji tidak akan mengecewakan amanah yang di embannya.

Hikmah 3 : Bagaimana seharusnya pemimpin bersikap

Simaklah sikapnya. Salah seorang Gubernurnya menulis surat. Isinya minta dana untuk membangun benteng sekeliling kota. Khalifah membalas suratnya. ‘Apa manfaatnya membangun benteng ? Bentengilah ibu kota dengan keadilan, dan bersihkan jalan-jalannya dari kezaliman.” Ada pepatah mengatakan,”seorang alim harus mengajar dirinya sebelum mengajar orang lain, dan hendaknya mengajar dengan prilakunya sebelum mengajar dengan ucapan -ucapannya.” Pepatah itu pas untuk pribadi Umar bin Abdul Azis.

Hikmah 4 : Berhati-hati, Halallan Toyyiban & Menghindari hal yang syubhat

Suatu hari Khalifah Umar bin Abdul Azis mendapat hidangan sepotong roti yang masih hangat, harum dan membangkitkan selera dari istrinya.” Dari mana roti ini ?”tanyanya.” buatan saya sendiri,” jawab istrinya.” Berapa kau habiskan uang untuk membeli terigu dan bumbu-bumbunya?” hanya tiga setengah dirham saja,” jawab istrinya.” Aku perlu tahu asal usul benda yang akan masuk kedalam perutku, agar aku dapat mempertanggung jawabkannya di hadirat Allah SWT. Nah, uang tiga setengah dirham itu dari mana ?” setiap hari saya menyisihkan setengah dirham dari uang belanja yang anda berikan, wahai Amirul Mukminin, sehingga dalam seminggu terkumpul tiga setengah dirham. Cukup untuk membeli bahan-bahan roti yang halalan thayyiban,” kata istri Khalifah menjelaskan.” Baiklah kalau begitu. Saya percaya, asal usul roti ini halal dan bersih. Namun, saya berpendapat lain. Ternyata biaya kebutuhan hidup kita sehari-hari perlu di kurangi setengah dirham, agar kita tidak mendapat kelebihan yang membuat kita mampu memakan roti atas tanggungan umat,” tegas Khalifah. Dan sejak hari itu, umar membuat instruksi kepada bendaharawan Baitul Maal untuk mengurangi jatah harian keluarga Umar sebesar setengah dirham.” Saya juga akan berusaha menganti harga roti itu, agar hati dan perut saya tenang dari gangguan perasaan, karena telah memakan harta umat demi kepentingan pribadi,” sambung Khalifah.

Disebutkan lagi, suatu ketika Amirul Mukminin Umar bin Abdil Azis, di kunjungi bibinya. Maksudnya meminta tambahan tunjangan dari Baitul Maal. Ketika itu, Amirul Mukminin sedang makan kacang bercampur bawang dan adas, makanan rakyat awam. Umar menghentikan makannya, lalu mengambil sekeping uang logam satu dirham dan membakarnya.di bungkusnya uang itu dengan sepotong kain dan di berikannya kepada bibinya seraya berkata,” Inilah tambahan tunjangan uang yang bibi minta.” Bibi menjerit kepanasan ketika menyentuh bungkusan berisi uang logam panas itu. Umar berkata,” Kalau api dunia terasa sangat panas bagaimana kelak api neraka yang akan menbakar aku dan Bibi karena menghianati amanah dan menyelewengkan harta kaum muslimin?” Masya Allah, itulah berkah memegang amanah Allah. Betapa rezeki yang halal dengan izin Allah, bisa membentuk pribadi-pribadi keturunan yang menawan.

Hikmah 5 : Qiyamullail

Fatimah Rahimahullah berkata,
“Umar bin Abdul Aziz, jika masuk ke rumah, dia langsung menuju ke mushallanya, kemudian dia menangis dan berdo’a sampai kedua matanya lelah (tidur), kemudian bangun. Seperti itulah yang dia lakukan di setiap malam.” (Taarikh Khulafa, As-Suyuthi)

FatimahRahimahullahberkata,
“Mungkin ada orang yang lebih banyak mengerjakan shalat dan puasa daripada Umar bin Abdul Aziz, tetapi aku belum pernah melihat orang yang lebih takut kepada Tuhannya daripada Umar. Jika dia shalat Isya terakhir (malam) dia menyendiri di mushallanya, lalu berdo’a dan menangis sampai kedua matanya tertidur. Kemudian bangun, berdoa dan menangis lagi sampai kedua matanya tertidur. Terus begitu sampai datang waktu shubuh.” (Az-Zuhud, Imam Ahmad)

Fatimah Rahimahullah berkata,
“Umar telah mengabdikan jiwa dan raganya untuk kepentingan manusia. Dia duduk untuk mereka di siang harinya, jika datang waktu sore dia masih melanjutkan tugasnya dalam memenuhi kebutuhan manusia sampai malam. Pada suatu sore dia sudah selesai dari tugas-tugasnya di siang hari, lalu dia mengambil lampu yang minyaknya diambil dari uangnya sendiri, kemudian berdiri dan shalat dua rakaat, kemudian dia merunduk dan meletakkan kepalanya di antara kedua tangannya, air matanya menetes di atas pipinya dan menangis tersedu-sedu. Demikianlah keadaannya pada malam itu sampai datang waktu subuh. Sedangkan pagi harinya dia berpuasa.”
(Sirah Umar bin Abdul Aziz, Ibnu Al-Jau

Pada suatu malam, Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah bangun untuk shalat malam, lalu membaca firman Allah, “Wa al-laili izaa yaghsyaa” (QS. Al-Lail), sampai pada firman Allah, “Fa andzartukum naaran taladzdzaa“, dia menangis sehingga tidak mampu melanjutkan ayat selanjutnya surat itu, dua atau tiga kali, sampai kemudian beliau membaca surat lainnya. (At-takwiif min An-Naar, Ibnu Rajab)

Kisah yang lain,

Hikmah 6 :Kekhawatiranya pada hari Akhir

Umar bin Abdul Azis tertarik waktu hamba sahaya itu bercerita.

“Ya, Amirul Mukminin. Semalam saya bermimpi kita sudah tiba di hari kiamat. Semua manusia dibangkitkan Allah, lalu dihisab. Saya juga melihat jembatan shiratal mustaqim.”

Umar bin Abdul Azis mendengarkan dengan seksama. “Lalu apa yang engkau lihat?” tanyanya.

“Hamba melihat satu per satu manusia diperintahkan berjalan melewati jembatan shiratal mustaqim. Penguasa Bani Umaiyah, Abdul Malik bin Marwan, hamba lihat ada di antara orang yang pertama kali dihisab. la berjalan melewati jembatan shiratal mustaqim. Tapi, baru dua langkah, dia sudah jatuh ke dalam jurang neraka. Saat ia jatuh, tubuhnya tak terlihat lagi. Hamba hanya mendengar suaranya. la terdengar menangis dan memohon ampun kepada Allah,” jawab hamba sahaya itu.

Umar bin Abdul Azis tertegun mendengar cerita itu. Hatinya gelisah.

“Lalu bagaimana?” ia bertanya dengan gundah.

“Setelah itu giliran putranya, Walid bin Abdul Malik bin Marwan. Ia juga terpeleset dan masuk ke dalam jurang neraka. Lalu tiba giliran para khalifah yang lain. Saya melihat, satu per satu mereka pun jatuh. Sehingga tidak ada yang sanggup melewati jembatan shiratal mustaqim itu,” kata sang hamba sahaya.

Umar bin Abdul Azis tercekat karena merasakan takut dan khawatir dalam dadanya. Sebab, ia juga seorang khalifah. la sadar, menjaga amanah kepemimpinan dan kekuasaan itu sangat berat. Dan ia pun yakin, setiap pemimpin harus bisa mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Tidak ada seorang pun yang akan lolos dari hitungan Allah.

Jantung Umar seketika berdegub kencang. Nafasnya memburu. Ia cemas, jangan-jangan nasibnya akan sama dengan para pemimpin lain yang dikisahkan hamba sahaya itu. Karena cemas dan takut, Umar bin Abdul Azis meneteskan air mata. Ia menangis.

“Ya Allah, apakah aku akan bernasib sama dengan mereka yang dilihat hamba sahaya ini di dalam mimpinya? Apakah aku telah berlaku tidak adil selama memimpin? Pantaskah aku merasakan surgaMu, ya Allah?” bisik Umar bin Abdul Azis di dalam hati. Air matanya kian deras mengalir.

“Lalu tibalah giliran Anda, Amirul Mukminin,” kata hamba sahaya itu.

Ucapan hamba sahaya itu menambah deras air mata Umar bin Abdul Azis. Umar kian cemas. Kecemasan Umar membuat tubuhnya gemetaran. Ia menggigil ketakutan. Wajahnya pucat. Matanya menatap nanar ke satu sudut ruangan.

Saat itu, Umar bin Abdul Azis mengingat dengan jelas peringatan Allah SWT, “Ingatlah pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka. Dikatakan kepada mereka : Rasakanlah sentuhan api neraka.”

Hamba sahaya itu justru kaget melihat reaksi khalifah Umar bin Abdul Azis yang luar biasa. Dalam hati, ia merasa serba salah. Sebab, ia sama sekali tidak punya maksud untuk menakut-nakuti khalifah. Ia sekadar menceritakan mimpi yang dialaminya.

Melihat kepanikan khalifah, hamba sahaya itu lalu berusaha menenangkan Umar bin Abdul Azis. Namun, Umar bin Abdul Azis belum bisa tenang. Maka, hamba sahaya itu pun meneruskan ceritanya dengan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, demi Allah, aku melihat engkau berhasil melewati jembatan itu. Engkau sampai di surga dengan selamat!”

Mendengar itu, Umar bin Abdul Azis bukan tersenyum apalagi tertawa. Ia diam. Cukup lama Umar tertegun. Cerita itu benar-benar membuatnya berpikir dan merenung.

Ada hikmah yang lalu dipetik Umar dari cerita itu. Dan sejak itu, ia menanamkan tekad untuk lebih berhati-hati dalam amanah kekuasaan. Itu adalah amanah Allah yang sangat berat.

Hikmah 7 : Mau mengambil pelajaran &diingatkan oleh orang yang lebih muda

Ketika Umar bin Abdul Aziz selesai menguburkan sepupunya, Sulaiman bin Abdul Malik (Amirul Mukminin yang menjabat sebelum dirinya), dia masuk ke kamar tidurnya untuk beristirahat sebentar. Akan tetapi dia mendengar suara ketukan pintu. Setelah dia tahu bahwa anaknya, AbdulMalik, meminta izin untuk masuk, maka ia mengizinkannya. Sesudah mengucapkan salam si anak berkata, “Wahai Amirul Mukminin, apa yang ingin kau kerjakan?”

“Aku akan tidur sebentar,” kata Umar
“Engkau tidur siang dan tidak mencegah kezaliman dari pelakunya,” kata anak itu.

“Wahai anakkku, sesungguhnya aku berjaga tadi malam untuk mengurus pamanmu Sulaiman, setelah aku shalat Zhuhur nanti aku akan kembali mencegah kezaliman dari pelakunya,” kata Umar.

Si anak kemudian berkata kepada bapaknya, “Saya tidak tahu pasti apakah engkau tetap hidup sampai Zhuhur nanti, berdirilah sekarang wahai amirul mukminin, tolaklah kezaliman dari pelakunya pertama kali.”

Umar bin Abdul Aziz berkata, “Mendekatlah kepadaku wahai anakku.”

Si anak lalu mendekat, Umar kemudian mencium keningnya seraya berkata, “Segala puji milik Allah yang telah menjadikan dari tulang sulbiku orang yang membantuku dalam urusan agamaku.”

Kekuasaan Khalifah Umar bin Abdul Aziz hanya berusia tiga puluh bulan, tetapi kekuasaannya yang singkat itu bagi Allah Ta’ala bernilai lebih dari tiga puluh abad. Beliau meninggalkan dunia fana ini dalam usia muda, yakni pada usia empat puluh tahun.
Pada zaman pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, pasukan kaum muslimin sudah mencapai pintu kota Paris di sebelah barat dan negeri Cina di sebelah timur. Pada waktu itu kekuasaan pemerintahan di Portugal dan Spanyol berada di bawah kekuasaannya.

Indahnya akhlaq beliau, semoga kelak akan muncul pemimpn di Indonesia seperti beliau..

atau mungkin kelak pemimpin itu adalah anda?:)



Cuplikan 4-fiqih mandi

July 31, 2008

setelah 3 episode kemarin kita membahas WHAT and WHY..
bagaimanakah tata cara mandi (ingat.. bukan M A N D I biasa..:) yang mengkuti kaidah yang benar? apa saja sunah2 dalam mandi??
btw sebelumnya, jadi ingat..
definisi sunah yang kita tahu slama ini, “dikerjakan mendapat pahala, tidak dikerjakan gapapa”, tapi ternyata itu definisi yang “nrimo”.. definisi yang membuat kita semangat tanpa menyalahi arti dari sunah itu sendiri, sunah adalah “dikerjakan memperoleh pahala, tidak dikerjakan.. RUGI lho..”
ok.. les start..
don’t forget to say.. bismillahirrahmaanirraahiim..
🙂

adapun rukun-rukun mandi (masih ingat pengertian rukun mandi? yap betul! jika tidak dikerjakan, maka mandinya tidak sah menurut aturan) yaitu:

1. BERNIAT
berniat ini yang membedakan ibadah dari kebiasaan atau adat.Jadi ingat saat dulu kita sering berpendapat bahwa niat adalah setelah kita mengucapkan “Usolli fardhu…”, padahal niat semata-mata adalah pekerjaan hati. Oleh sebab itu, kebiasaan yang dilakukan umat Islam, seperti menuturkan lafazh niat melalui
lisan tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

2. Membasuh Seluruh Anggota karena berdasarkan firman ALLAH
” …….. Jika kamu junub, maka mandilah….” (Al Maidah: 6) selain itu sahabat muslimah juga bisa membuka di surat Albaqarah:222. Artinya adalah, hingga mereka mandi terlebih dahulu. Dalil yang mnunjukkan bahwa yang dimaksud dengan bersuci itu adalah mandi, ialah firman Allah ta’ala,
” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu menegerti apa yang kamu ucapkan.(Jangan pula hampiri masjid) sedang dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi..” (An-Nisa :43)
Dan yang dimaksudkan dengan hakikat mandi itu adalah membasuh seluruh anggota badan (inga-inga SELURUH anggota badan..)

lalu teknis yang dicontohkan Rasulullah seperti apa?
semua itu ada di sunnah mandi berikut…

SUNNAH-SUNNAH MANDI
Sesorang yang mandi harus memperhatikan pekara-perkara uang pernah dilakukan Rasulullah SAW pada saat mandi,yaitu sebagai berikut:

  1. Mulai dengan mencuci kedua tangan sebanyak 3 kali
  2. Kemudian membasuh kemaluan
  3. Lalu berwudhu secara sempurna seperti halnya wudhu pada saat ingin mengerjakan shalat. Ia juga boleh menangguhkan membasuh kedua kaki hingga selesai mandi, bila ia mandi di tempat tembaga dan sebagainya.
  4. Kemudian menuangkan air ke atas kepala sebanyak 3 kali sambil menyelang-nyelangi rambut agar air dapat membasahi urat-uratnya.
  5. Lalu mengalirkan air ke seluruh badan dengan memulai sebelah kanan, lalu sebelah kiri tanpa mengabaikan kedua ketiak, bagian dalam telinga, pusat, dan jari-jari kaki serta menggosok anggota tubuh yang dapat digosok.

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a,

“Apabila Nabi SAW mandi junub, maka beliau memulai dengan mencuci kedua tangan, lalu menuangkan air dengan tangan kanan hingga ke tangan kirinya dan mencuci kemaluannya. kemudian berwudhu seperti halnya ketika hendak shalat. Lalu mengambil air dan menyiramkannya kepada jari-jemarinya ke dalam urat rambut hingga bila air terasa membasahi kulit, maka beliau meraupkan kedua telapak tangan lagi, lalu disiramkan ke atas kepalanya sebanyak tiga kali. Setelah itu beliau menuangkan atau menyiramkan air ke seluruh tubuhnya.” (H.R Bukhari dan Muslim).

ok sahabat muslimah, semua sudah disampaikan tanpa ada rahasia apa-apa lagi diantara kita… (tidak ada dusta diantara kita.. wadow jadoel bener..hehe)..

pesan dr blog ini, coba kita ingat-ingat lagi, ketika kita melakukan mandi besar, setelah selesai Haid/junub, apakah sudah sesuai dengan yang Rasulullah contohkan?? jika belum, yuk.. kita sempurnakan cara mandi kita.. karena ketika mandi kita tidak sah, tidak memenuhi rukun, maka ibadah-ibadah yang kita lakukan akhirnya akan tidak sah pula karena kondisi kita masih dalam keadaan junub..

wallahu’alam..
sampai bertemu lagi di pembahasan selanjutnya..

salam ukhuwah dan sayang untuk sahabat muslimah semua


Cuplikan 3-fiqih mandi

July 31, 2008

Masih melanjutkan kisah tentang “M A N D  I” bukan mandi biasa,…

episode 3 kali ini akan membahas tentang larangan wanita yang sedang junub untuk menetap di masjid..

are u ready?? check this out..

dont forget to say.. bismillahirrahmaanirraahiim

Menetap di Masjid

Haram bagi orang junub menetap di masjid karena hadits Aisyah r.a,

” Rasulullah saw datang ke masjid, sementara bagian depan rumah para sahabatnya ada menjorok ke dalam masjid. Rasul SAW pun bersabda,’pindahkan bagian depan rumah-rumah ini dari masjid! Kemudian Rasulullah saw. pun masuk, sedangkan orang-orang itu belum berbuat apa-apa karena mengharapkan keringanan dari Nabi saw. Akhirnya, Nabi saw. pun keluar menjumpai para pemilik rumah itu, katanya,’Palingkan rumah-rumah ini dari masjid karena aku tiada membolehkan perempuan haid dan orang junub memasuk masjid.”(HR Abu Dawud)

Dari Ummu Salamah r.a,

Rasulullah saw masuk ke halaman masjid dan berseru sekeras suaranya,’Sesungguhnya masjid ini tidak boleh dimasuki orang haid dan orang junub! (HR Ibnu Majah dan Thabrani)

Kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa orang haid dan orang junub tidak boleh tinggal atau menetap di dalam masjid, tetapi keduanya diberi keringanan untuk melintasnya saja, karena firman ALLAH ta’ala;

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat sedang dalam keadaan mabuk, sehingga kamu menegrti apa yang kamu ucapkan (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekadar berlalu saja, hingga kamu mandi..“(An-Nisa:43)

Dan diterima pula dari Jabir ra yang berkata,

“Masing-masing kami biasa melewati masjid dalam keadaan janabat, tetapi hanya melintas.”(HR Ibnu Syaibah dan Sa’id bin Manshur dalam buku Sunan-nya)

Zaid bin Aslam berkata,

” Para sahabat Rasulullah saw biasa berjalan di masjid sedangkan mereka dalam keadaan junub.”(HR Ibnu Mndzir)

Dari Yazid bin Habib bahwa ada beberapa orang diantara laki-laki Anshar; pintu rumah mereka menghadap masjid. Mereka sering dalam keadaan junub dan tidak mendapatkan air. Mereka tidak menemukan jalan lain untuk keluar melainkan melalui pintu masjid. Lalu ALLAH menurunkan ayat“(Janganlah pula menghampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja”(HR Ibnu Jabir)

Aisyah ra berkata,

Rasulullah bersabda kepadaku, ‘Ambilkan timba untukku dari masjid itu!, Jawabku,’Aku sedang haid.’Nabi saw bersabda,’Haidmu itu bukanterletak dalam tanganmu.‘” (HR. Jama’ah kecuali Bukhori)

Dan dari Maimunah ra,

“Rasulullah saw biasa masuk menjumpai salah seorang di antara kami, meski kami sedang haid. Lalu Nabi saw meletakkan kepalanya di pangkuan istrinya yang haid itu, lalu membacakan Alquran. Setekah itu, salah seorang di antara kami berdiri sambil membawa timbanya, lalu meletakkannya ke dalam masjid, sedang ia dalam haid“(HR Ahmad dan Nasa’i dengan kesaksian-kesaksian yang mengukuhkannya)

Kesimpulannya, orang(wanita atau laki2) yg sedang haid, tidak diperbolehkan masuk ke dalam masjid, namun dibolehkan untuk berlalu saja (pengertian “berlalu” bisa dilihat di hadits2 di atas)

dari buku fiqih wanita pun menuliskan hal2 diatas dan memberikan kesimpulan yang sama.

sebagai tambahan, saat bertanya ke ustadzah, untuk wanita, boleh/tidaknya ke masjid bukan dari alasan “kan gak tembus”, dst. pengertiannya kotor itu bukan karena “tembus” atau tidak, tapi memang saat kita sdg junub/haid, artinya dalam keadaan kotor.

dan mengenai mengikuti acara yg diadakan di dalam masjid,dari narasumber seorang ustadzah beliau menjelaskan,

kita boleh mengikutinya jika benar2 saat kita tdk hadir di acara tersebut, maka kita tdk akan bs memproleh ilmu yg diberikan.(alternatif media lain seperti buku, radio, TV, tidak bs memenuhi kebutuhan ilmu yg disampaikan di masjid tersebut)

wallahu’alam

yup, itu dia penjelasan lengkap kenapa saat kita sedang junub/haid, maka kita tdk dibolehkan shalat, thawaf, membaca Alquran, menyentuh mushaf Alquran, dan menetap di masjid..

moga bisa menambah ilmu sahabat muslimah sekalian..^^

episode selanjutnya kita akan membahas tata cara “M A N D I”..

salam cinta dan ukhuwah

wassalamu’alaikum wr.wb

sumber: Sayyid Sabiq.Fiqih Sunnah Jilid 1.2004

Fiqih Wanita


Cuplikan 2 -fiqih mandi

July 31, 2008

Masih ingat dengan topik bahasan kemarin?? yap benar!!!
yaitu ttg “M A N D I” bukan mandi biasa..

dan sampai ke dalam bahasan hal2 yang tidak boleh dilakukan bagi seseorang yang sedang junub.

  • Mengerjakan shalat
  • Thawaf
  • Menyentuh mushaf Alquran dan membawanya
  • Membaca Alquran
  • Menetap di masjid

Mari kita bahas lebih mendalam ke poin 3, 4, dan 5.. Lets startdon’t forget to say..”bismillaahirrahmaanirraahiim

Menyentuh mushaf Alquran dan membawanya

Hukum haram ini merupakan kesepakatan para imam dan tidak seorang pun diantara sahabat yang menyangkal pendapat ini, akan tetapi Dawud dan Ibnu Hazm membolehkan orang junub untuk menyentuh Alquran dan membawanya. Mereka berpendapat bahwa tidak ada halangan bagi orang junub untuk menyentuh dan membawa Alquran. Alasannya adalah sebuah peristiwa yang ercantum dalam Shahih Bukhori dan Shahih Muslim bahwa Rasulullah mengirim surat kepada kaisar Heraklius yang di dalamnya tertera, “Dengan Nama ALLAH yang Maha Pengasih lagi Penyayang”, hingga sabdanya.Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah [berpegang] kepada suatu kalimat [ketetapan] yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak [pula] sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri [kepada Allah]“(Al-Imran:64)

Ibnu Hazm mengatakan,”Lihatlah dengan baik, Rasulullah SAW telah mengirimkan surat yang memuat ayat tersebut kepada orang-orang Nasrani, sedangkan beliaupasti mengetahui bahwa mereka akan menyentuhnya”.

Pendapat ini disanggah mayoritas ulama bahwa keadaan ini hanya merupakan surat dan memang tidak ada halangan untuk menyentuh apa saja yang memuat ayat-ayat Alquran tersebut seperti surat-surat, kittab fiqih, kitab-kitab tafsir, dll. Semua itu tidak ada keterangan menyatakan haram menyentuhnya..
so, in conclusion, jika sahabat muslimah membawa Tafsir Alquran, Alquran tarjamah, Buku-buku doa,.. don’t worry..itu dibolehkan sesuai penjelasan diatas

Membaca Alquran

Menurut Jumhur ulama, orang junub diharamkan membaca ayat-ayat Alquran, berdasarkan hadits Ali.r.a,
“Tidak ada suatu perkara pun yang dapat menghalangi Rasulullah saw dari membaca Alquran kecuali dalam keadaan junub.” (HR Ash-habus sunan serta dishahihkan oleh Tirmidzi dan lain-lainnya)

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari mengatakan, ” Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa sebagian perawi hadits tersebut dhaif. Akan tetapi pendapat yang benar, ia termasuk hadits hasan yang dpat digunakan sebagai hujjah dalam bidang ibadah.”
Ali juga berkata,
Aku melihat Rasulullah saw berwudhu kemudian membaca sesuatu dari Alquran. Beliu bersabda’Demikianlah keadaan orang yang tidak Junub, yaitu boleh membaca Alquran. Tetapi orang junub tidak dibolehkan membaca Alquran meskipun 1 ayat.” (HR Ahmad, Abu Ya’la dan inilah susunan kata-katanya. Menurut Haitsami, perawi-perawinya dapat dipercaya).

Syaukani mengatakan, “seandainya hadits tersebut benar-benar shahih, maka ia dapat digunakan sebagai alasan  untuk mengharamkan Alquran bagi orang yang junub. Mengenai hadits yang pertama, tidak dijumpai dalil yang menunjukkan keharamannya. Karena maksudnya hanyalah bahwa Nabi saw meninggalkan bacaan ayat-ayat Alquran sewaktu berjunub. Keterangan seperti itu tidak dapat dijadikan sebagai alasan hukum makruh, apalagi untuk mengharamkannya.”

Sementara itu Bukhari, Thabrani, Dawud, dan Ibnu Hazm berpendapat bahwa orang junub dibolehkan membaca Alquran. Bukhari mengatakan, “Menurut Ibrahim, seorang perempuan haid tidak dilarang untuk membaca Alquran. Begitu juga pendapat Ibnu Abbas bahwa orang yang junub tidak dilarang untuk membaca Alquran, Sebab Nabi saw. selalu berdzikir kepada ALLAH pada setiap saat. Dan sebagai tambahan dalam masalah ini, al-Hafizh mengatakan “Menurut pengarang buku ini (Bukhari), tidak ada satu hadits shahih pun yang membahas masalah ini, yakni melarang orang junub dan perempuan haid membaca Alquran”

In conclusion, ada berbagai pendapat mengenai hal ini, silahkan sahabat muslimah memilih diantara banyak pilihan (hasil ijtihad) dari ulama yang ada..