Resume Pengantar Ilmu Fiqih

April 19, 2009

Bismillahirrahmaanirrahiiim..

fiqih berasal dari bhs arab artinya memahami.

ta’arif fiqih ada bermacam-macam, ta’arif imam syafi’i. imam mazhab yang pertama. seseorang mengetahui apa hak dan kewajibannya. disini tidak ditentukan apa kewajibannya, tapi termasuk kewajiban beriman (berhubungan dengan akidah), dan juga berhubungan dengan akhlak, dan tasawfuf, serta muammalat.

1.fiqih kaudi

2. ilmu akhlak wa tasawwuf

3. fiqih yang berhubungan dengan ibadah dan muammalat

4.fiqih itu adalah: mengetahui, pengetahuan yang mutlak, dimana di dalamnya termasuk pengetahuan dengan dasar keyakinan (qot’i), ataupun (yang tidak meyakinkan) ghonni. AL arkam: apa-apa yang diwajibkan, apa-apa yang diminta oleh syariat baik itu berupa perintah ataupun takhrir (hukum mubah ataupun wad’an- terbagi menjadi haram dan makruh), ibtida’ (takhrim&istiba’). sifat dari hukum-hukum ini (hukum syri’ah), yang bersumber dari syariat, maka tidak termasuk hukum2 yang berasal dari panca indera. Almu’tashab (ilmu berdasarkan usaha ahli fiqih, sehingga tidak termasuk ilmu Rasulullah dan yang berasal dari Quran), dan juga yang tidak termasuk adalah ilmu2 yang bersifat pasti (seperti haji, salat, tidak termaksdu ilmu fiqih.

ilmu fiqih mencakup seluruh apa-apa yang dibutuhkan dalam kehidupan ini.

keistimewaan ilmu fiqih:

keistimewaan 1 (missed again on this part 😦 )

keistimewaan 2 (missed again on this part 😦 )

keistimewaan ke 3 :

ada sifat diniyahnya, mengikuti hukum-hukum, ada keterikatan kepada agama.(bersifat tuntunan agama disitu). balasan yang didapat manusia diperoleh di dunia dan juga di akhirat.

Faktor-faktor perselisihan para mujahidin:

1. dalil-dalil yang ada dalam Quran dalam bahasa Arab (perbedaan memahami bahasa arab), dan lafadz2 menjadi perbedaan, dan perbedaan itu ada alasannya.

2. perbedaan dalam periwayatan (mayoritas yang terjadi dalam hadits).

3. Perbedaan atas Sumber-sumber fiqih itu sendiri selain Alquran, sunnah, ijma, dan qiyas. misalnya istihsan, almusholeh-almurshalah, qowulussahabi (perkataan sahabat), banyak mujtahidin yang berbeda pendapat atas pengakuan2 sumber-sumber diatas

4. (miss on this point, is there any body could complete it)?

5. Ijtihad dengan qiyas (qiyas ada hukum asal, syarat2 qiyas, sebab adanya hukum asal-> hal2 inilah timbulnya perbedaan2, sehingga hasil akhirnya berbeda)

6. Sumber-sumber yang diambil betentangan, bagaimana mereka mentarjihkan dan merajjihkan dalil-dalil yang ada, sehingga hasilnya akan berbeda.

yang kita ambil yang mana? yang paling benar, rajjih, karena jumhur ulama mengatakan tidak ada kewajiban mengikuti salah satu mazhab yang ada dalam segala situasi. jadi intinya ambil pendapat terbenar~terkuat sumber2nya!

standarnya?orang yang tidak tahu boleh bertanya kepada siapa saja(pastinya yang memiliki ilmunya dalam hal tersebut), dengan kadar yang mungkin berbeda-beda, jadi jika kita percaya dengan seorang ustadz yang amanah, menjawab pertanyaan tidak mengikuti hawa nafsunya, tentunya kita bisa bertanya padanya, dan kita pun dapat menanyakan alasannya, dali-dalil, dsb.

bahkan di zaman Rasulullah, jangan dibayangkan semuanya mengetahui fiqih, jika yang bisa mengakses langsung ke Rasululah maka dapat ditanyakan, tapi yang di Yaman?akhirnya mereka menanyakan kepada sahabat yang diutus Rasulullah ke kota tersebut. Jadi bisa kita mencarinya ke sumber-sumber yang terpercaya seperti situs-situs atau lainnya.

kaidahnya, 4WI menginginkan kemudahan, bukan kesukaran, dan juga 4WI tidak akan memberikan beban melebihi kemampuan hambanya, maka kita boleh mengambil pendapat yang lebih ringan (tentu pendapat tersebut didasari dengan alasan yang kuat). Pendapat pun bisa berubah sesuai dengan perbedaan waktu dan lingkungan (saat Imam syafii, di Irak dan Mesir), Imam Syafi’i mengeluarkan pendapat baru saat belau berpindah tempat tersebut.

Alhamdulilaahirrabbil’alamiin

sumber:kajian Online  oleh Ust. Jailani Salam di Tokyo.

Advertisements

me VS ajumma

April 19, 2009

Bukan lagi me Vs Mom, ini trend terbaru di Korea, “Me VS ajumma” 🙂

sebelum berlanjut, sebenarnya, siapakah ajumma ini?apa itu ajumma?

ajumma yang dalam tulisan hangul adalah 아줌마, dalam bahasa Indonesia dapat diartikan “ibu-ibu” dan dalam bahasa inggris diartikan sebagai auntie. namun jika kita ingin memanggil sang ibu-ibu, bukanlah dengan menyebutnya Ajumma, tapi dapat dilembutkan dengan ajumoni(아주머니) atau imo (이모).

Sudah cukup tergambar bukan siapakah ajumma itu? 😉 kalau masih samar-samar, bisa dilihat di foto berikut :p

images1

Ajumma di Korea, khusunya di daerahku cukup banyak, selain banyak pula kakek dan nenek :p tapi jangan sangka, para ajumma di sini sangatlah menjaga penampilan dan terpenting adalah berat badan, jadi tidak heran kalau ibu-ibu disini langsing bin slim.he2. 🙂

hal lain yang kutemui, para ibu disini mayoritas dapat mengendarai mobil, menyetir maksudku. Keahlian menyetir diperlukan untuk berbelanja, menjemput anak, dan melakukan aktivitas lainnya. Selain itu, mayoritas keluarga disini tidak memiliki servant (pembantu rumah tangga), karena harganya yang wuihhh. hanya wealth family yang mampu menyediakan, itu pun biasanya pembantu tidak stay at home, tetapi pulang-pergi dan pembantu tersebut bukanlah pekerja yang didatangkan dari negara lain tapi local produk dalam negeri (read:orang korea).

Umur rata-rata wanita Korea menentukan hidupnya, untuk menikah atau tidak adalah di masa-masa 27 tahun sampai 29 tahun.ada hal besar yang membedakan antara wanita menikah dengan mereka yang memilih tidak menikah. Umumnya para wanita Korea yang memilih menikah, dapat dikatakan sudah menisbatkan hidupnya untuk keluarga, konsekuensi terbesar adalah tanpa pembantu, ia harus siap menjalani aktivitas rumah tangga, melakukan household, dan membesarkan putra-putrinya. Budaya pria Korea dahulu dan sekarang sudah cukup berbeda, dahulu, para suami tidak mau membantu istrinya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mereka berpikir, itu adalah tugas sepenuhnya sang istri. Namun saat ini, sediki-sedikit mulai berubah, walaupun masih banyak ditemukan situasi seperti pemikiran diatas, sehingga dapat dibayangkan tanggung jawab yang dipikul seorang istri di Korea. Syukurlah di Indonesia pemikiran seperti ini tidak mendominasi pemikiran para pria, banyak kutemui para bapak, membantu istrinya memandikan anak mereka, mencuci piring sisa makanan, dan hal lainnya.

Dari segi pendidikan, para ajumma saat ini mayoritas berpendidikan S1, bahkan tak jarang ku temui para ajumma yang telah menyandang gelar S2 dan melanjutkan ke S3. Apakah mereka dosen? bukan, mereka hanya wanita yang menikah dan tetap bekerja menjalankan karirnya 🙂

Bagi ajumma yang kujelaskan diatas, dapat terlihat bahwa potensi seorang wanita tidak berakhir sesaat mereka berkeluarga. Namun, banyak juga kutemui, para ajumma tidak memiliki informasi yang lebih terhadap kondisi diluar Korea dan terhadap multiculture yang saat ini ada. Lihat saja saat mereka bertemu dengan orang asing, banyak kutemui sebagian besar mereka takjub melihat perbedaan yang ada pada orang asing. even dari perbedaan wajah, tinggi badan, bahasa, dan bahkan perbedaan style dalam berpakaian. Hal yang kurang nyaman bagi orang asing di Korea (khususnya yang bukan di kota besar), ajumma akan melihat perbedaan tersebut, dimulai dari ujung rabut, hingga ujung kaki, bahkan tak jarang saat orang asing tersebut sudah berlalu, ajumma masih saja melihat dengan takjub ke arahnya.

Dalam kondisiku sebagai “orang asing” (aih gaya betul, dan bukan bule pastinya), ajumma tidak segan-segan untuk diam, berhenti sejenak, mendekat ke arahku, dan  duduk disampingku, hanya untuk menanyakan style berpakaian dimulai dari pertanyaan ini apa?untuk apa?dari mana?setiap hari seperti ini? empat pertanyaan ini termasuk dalam 4 pertanyaan terfavorit yang kerap kali ditanyakan. “ah, ini dia waktuku memperkenalkan Islam kepada wanita disini”. inilah yang selalu muncul di benakku dan membuatku tidak bosan saat pertanyaan-pertanyaan diatas menghampiri 🙂 Ada pertanyaan favorit tambahan jika musim panas tiba (여름), yaitu “itu kan panas! kenapa musim panas seperti ini menggunakan pakaian seperti itu?”. ah, lagi-lagi ku mulai dengan tersenyum, dan berkata, “tidak apa-apa (괜찮아요)” , jika sang ibu mendekat, duduk, dan bertanya lebih jauh barulah kujelaskan hal-hal sederhana.

Itulah para wanita disini, AJUMMA, mereka memiliki banyak sekali kelebihan, namun disisi lain, mereka pun masih minim dari sisi informasi, terlebih lagi terkait dengan multiculture, dunia Islam. Menjadi daya tarik tersendiri untuk mengambil pelajaran baik dari para ajumma di sini dan lebih ‘mendekat’ kepada mereka 🙂

” Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Hal itu agar mereka lebih mudah dikenal dan karena itu mereka tidak diganggu”

(al-Ahzab, 59)