a brief explanation about Hijab

October 9, 2009

Responding the article which has been published at Kyungnam Times at winter edition last year, I am interested to explain more about Hijab. On that article, it was explained that Hijab is a conservative clothe and put parallel with the other examples of conservative tradition.

Hijab is the modern word for a practice of dressing modestly, which all practicing Muslims past the age of puberty are instructed to do as mentioned (or according) to the Holy Book of Al Qur’an. With the main function is to give higher respect to women  and for the basic requirements are that when in the presence of someone of the opposite sex other than a “close family member” (Mahram),  a woman should cover her body, and walk and dress in a way which does not draw sexual attention to her, and that a man should be covered from at least the navel to the knees, and similarly not wear figure-hugging clothes that draw sexual attention to him.

Generally, drawing sexual attention is only allowed for married couples—where it is highly encouraged—and they do not need to cover any part of their body in each other’s presence (other Mahrams should hide at least their sexual organs from each other). Thus, I ‘ll  ? It is claimed that Hijab strengthens the family and therefore improves the children’s mental health.

Some people think that it is difficult to wear Hijab in Korea, especially in summer season. Despite of this, I just want to convince to all of you and especially to myself that, it’s really no problem at all, just put ourselves as the some situation which is a habit for us,. This for example, eating Kimchi everyday and anytime. If wearing hijab has become our habit, we will feel easy to wear hijab anytime and anywhere. In addition, Women are not required to wear Hijab all day long. In side a house where there is only husband, father in law, close family or other Mahram, women are not required to wear Hijab.

In the Islamic law (sharia)”in the case of necessity, for example for saving lives or avoiding severe hardship, Hijab rules are waived”.

The way in which Muslims who practice Hijab interpret the stated rules varies from country to country and even individual to individual.

Nowadays, Hijab is famous as a fashion style in several countries such as Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Egypt, Arabia, Turkey, even in France and America. Any kinds of Hijab style has started to grow up, even it has been mushrooming and become a good opportunity for business. It is same with any other fashion style, such as casual dress, formal dress, and even wedding dress. Some pictures below shows you some of new Hijab trends.

hijab

So, it’s not true that Hijab is a conservative or even an old tradition. Hijab is one style for a women Muslim for dressing.

Thus, for Korea as one of developed countries, and also for each of country that will face globalization period, knowing various trend of culture is inevitable. We have to appreciate differences and respect one another. Although there are many people who live in Korea from various cultural backgrounf, we have to treat every one as the same. Neither by criticize nor respond negatively, but only for asking the explanation of the differences itself.

*sent to kyungnam times, but refused :p

perhaps because it contains too many promotion about hijab 😀


Ramadhan ke 2 di Korea

October 9, 2009

Di indonesia, dari kota besar hingga kota kecil, dari pelosok utara hingga ke selatan, pastilah semarak ramadhan di rasakan di manapun itu. Tapi tidak dengan Korea, Kota-kota kecil seperti Masan dan Jinju.

Saat diberi kesempatan mengujungi Busan, (Busan adalah salah satu kota besar yang terletak 1 jam dari Masan dan Jinju), di sepanjang jalan, subway, dan terminal, tidak ada semarak ramadhan yang muncul. Tetapi ketika memasuki salah satu kampus untuk melaksakan buka puasa bersama, mulailah terlihat satu persatu teman yang hadir. Mahasiswa Indonesia yang ada di Korea memang kerap kali mengadakan acara seperti ini untuk lebih menguatkan diantara sesama ‘anak rantau’ dan juga mempererat silaturahmi. Apa yang istimewa dari buka puasa kali ini? Tentu saja, adanya masakan Indonesia yang disajikan untuk memenuhi kerinduan dan para peserta yang hadir bukanlah hanya mahasiswa muslim, tapi seluruh mahasiswa Indonesia, baik muslim, Kristen, Budha atau agama yang lain.

Saat berada di sana, terdapat beberapa hal yang dirasakan oleh teman-teman ketika melakukan puasa di Korea. Ayi, mahasiswi S1 yang saat ini sudah 4 tahun berada di Korea mengatakan, ia merasa lebih khusyuk dan senang , saat tempat tinggalnya saat ini telah pindah ke daerah dekat masjid. Sedangkan Indah dan Defri, mahasiswa S2 dan S3 yang baru dua minggu berada di Busan mengatakan bahwa cuaca di korea lebih mendukung (lebih sejuk, karena saat ini sudah masuk musim gugur)  tapi hal yang sangat dirindukan adalah suasana dan semarak Ramadhan seperti di Indonesia.

busan

Buka puasa sudah selesai, saatnya beralih ke masjid busan. Masjid ini adalah salah satu mesjid besar yang ada di Korea, selain di Itaewon,  Kimhae dan Gwangju. Dan saat ini juga sedang di bangun sebuah masjid di changwon, mohon doanya dari pembaca di Indonesia. Kembali ke Masjid Busan, taraweh pada malam itu di imami oleh seorang muslim Libya. Jama’ah yang hadir cukup banyak pada hari itu, karena memang, sabtu—minggu adalah waktu dimana para pekerja dan mahasiswa libur atau lebih luang dibandigkan weekdays. Saat itu jama’ah laki-laki berjumlah 3 shaff penuh dan 1 shaff yang diisi setengah dan jama’ah wanita terdiri atas 3 jama’ah. Saat salat tarawih  dan witir selesai, diumumkan, bahwa untuk muslim Indonesia diharapkan tidak pergi dulu karena ada tausiyah dan pembentukan kepanitiaan Idul Fitri. Saat Idul Fitri tahun lalu, Masjid Busan memfasilitasi untuk 700 jama’ah, namun yang hadir ternyata lebih dari 1000 jama’ah. Dan tahun ini, dengan adanya kemungkinan Idul Fitri jatuh di hari minggu, maka diperkirakan jumlah jama’ah akan membludak, untuk itu diperlukan kesiapan panitia dan SDM yang cukup untuk mengaturnya.

busan 2Para jamaah putri berkumpul dan tidur di ruang keputrian, sedangkan jama’ah laki-laki disediakan tempat untuk tidur di dalam masjid. Suara lantunan ayat Alquran terus berkumandang, hingga akhirnya waktu sahur tiba. Salat subuh kembali di imami oleh seorang muslim dari Libya, dan dilanjutkan dengan tausiyah yang disampaikan oleh Imam Masjid, seorang Muslim Korea dalam bahasa Korea yang diartikan ke bahasa Indonesia oleh salah satu rekan. Semakin sejuknya dan khusyuknya ramadhan di hari itu. Di pagi harinya, diadakan kerja bakti untuk membersihkan mesjid sedangkan jama’ah putri berkumpul untuk mengikuti kajian cyber. Saat itu beberapa rekan pekerja menceritakan pengalamannya saat berpuasa. Mba Iis yang bekerja di pabrik besar mengatakan bahwa pabriknya memiliki standar kerja yang tinggi, sehingga tidak dibolehkan bagi pekerja untuk meninggalkan pekerjaannya, sehingga saat ia bekerja pada shift malam, ia harus mensiasati waktunya untuk dapat makan sahur, bahkan ia pernah makan sahur di toilet. Lain lagi dengan mb Atin, kondisi tempat ia bekerja tidak seperti di tempat mb Iis, ia memiliki waktu yang cukup untuk shalat, berbuka ataupun sahur saat shift malam. Semoga mereka dan rekan pekerja yang lainnya dimudahkan dan dikuatkan untuk melaksanakan puasa kali ini.

Saat salat zuhur berjama’ah terdapat satu orang jama’ah yang baru hadir, dan ia adalah Nadya, seorang muslimah asli Korea yang baru bersyahadat satu hari yang lalu.. subhanallah.. Nadya masih membawa buku pembimbig sholat saat melaksanakan salat zuhur berjama’ah, dan kami pun berdiskusi menggunakan bahasa korea dan Inggris untuk lebih menguatkan Nadya dalam berislam.

Saat seleseai melaksanakan salat Ashar, terdapat beberapa tamu yang ingin mengetahui lebih jauh Islam itu seperti apa. Mereka sengaja datang ke Masjid untuk bertemu para muslim dan menanyakan berbagai hal terkait Islam. Pada hari itu terdapat dua siswi SMU Isabel high school, mereka mendapat tugas dari sekolah untuk belajar lebih jauh tentang islam dan muslim, mereka menanyakan berbagai hal, ttg islam, hijab, kemudian mereka juga ikut buka puasa bersama, bahkan mencoba mukena dan diajarkan salat. Lain lagi dengan seorang ibu guru, yang juga ikut buka puasa bersama, dilanjutkan dengan solat maghrib. Ibu guru tersebut diajarkan bagaimana berwudhu dan juga salat. Ada juga mahasiswi yang memperhatikan kami saat kami solat zuhur dan mengikuti kajian zuhur. Mah-mudahan saja penerimaan muslim di sini membekas di hati mereka. Dan kemarin juga  terdapat salah satu stasiun TV nasional meliput kegiatan ramadhan  kami di Mesjid, sejak siang hari hingga berbuka puasa. Tayangan ini akan ditayangkan sebagai acara documentary yang akan disiarkan beberapa hari kemudian. Semoga saja dengan melihat tayangan itu, masyarakat Korea akan lebih dapat menghargai dan mengerti mengenai Islam dan muslim.

*sent to Republika, but refused 😀

perhaps because it seems like writing a diary not a news 😀 :p


Resume Pengantar Ilmu Fiqih

April 19, 2009

Bismillahirrahmaanirrahiiim..

fiqih berasal dari bhs arab artinya memahami.

ta’arif fiqih ada bermacam-macam, ta’arif imam syafi’i. imam mazhab yang pertama. seseorang mengetahui apa hak dan kewajibannya. disini tidak ditentukan apa kewajibannya, tapi termasuk kewajiban beriman (berhubungan dengan akidah), dan juga berhubungan dengan akhlak, dan tasawfuf, serta muammalat.

1.fiqih kaudi

2. ilmu akhlak wa tasawwuf

3. fiqih yang berhubungan dengan ibadah dan muammalat

4.fiqih itu adalah: mengetahui, pengetahuan yang mutlak, dimana di dalamnya termasuk pengetahuan dengan dasar keyakinan (qot’i), ataupun (yang tidak meyakinkan) ghonni. AL arkam: apa-apa yang diwajibkan, apa-apa yang diminta oleh syariat baik itu berupa perintah ataupun takhrir (hukum mubah ataupun wad’an- terbagi menjadi haram dan makruh), ibtida’ (takhrim&istiba’). sifat dari hukum-hukum ini (hukum syri’ah), yang bersumber dari syariat, maka tidak termasuk hukum2 yang berasal dari panca indera. Almu’tashab (ilmu berdasarkan usaha ahli fiqih, sehingga tidak termasuk ilmu Rasulullah dan yang berasal dari Quran), dan juga yang tidak termasuk adalah ilmu2 yang bersifat pasti (seperti haji, salat, tidak termaksdu ilmu fiqih.

ilmu fiqih mencakup seluruh apa-apa yang dibutuhkan dalam kehidupan ini.

keistimewaan ilmu fiqih:

keistimewaan 1 (missed again on this part 😦 )

keistimewaan 2 (missed again on this part 😦 )

keistimewaan ke 3 :

ada sifat diniyahnya, mengikuti hukum-hukum, ada keterikatan kepada agama.(bersifat tuntunan agama disitu). balasan yang didapat manusia diperoleh di dunia dan juga di akhirat.

Faktor-faktor perselisihan para mujahidin:

1. dalil-dalil yang ada dalam Quran dalam bahasa Arab (perbedaan memahami bahasa arab), dan lafadz2 menjadi perbedaan, dan perbedaan itu ada alasannya.

2. perbedaan dalam periwayatan (mayoritas yang terjadi dalam hadits).

3. Perbedaan atas Sumber-sumber fiqih itu sendiri selain Alquran, sunnah, ijma, dan qiyas. misalnya istihsan, almusholeh-almurshalah, qowulussahabi (perkataan sahabat), banyak mujtahidin yang berbeda pendapat atas pengakuan2 sumber-sumber diatas

4. (miss on this point, is there any body could complete it)?

5. Ijtihad dengan qiyas (qiyas ada hukum asal, syarat2 qiyas, sebab adanya hukum asal-> hal2 inilah timbulnya perbedaan2, sehingga hasil akhirnya berbeda)

6. Sumber-sumber yang diambil betentangan, bagaimana mereka mentarjihkan dan merajjihkan dalil-dalil yang ada, sehingga hasilnya akan berbeda.

yang kita ambil yang mana? yang paling benar, rajjih, karena jumhur ulama mengatakan tidak ada kewajiban mengikuti salah satu mazhab yang ada dalam segala situasi. jadi intinya ambil pendapat terbenar~terkuat sumber2nya!

standarnya?orang yang tidak tahu boleh bertanya kepada siapa saja(pastinya yang memiliki ilmunya dalam hal tersebut), dengan kadar yang mungkin berbeda-beda, jadi jika kita percaya dengan seorang ustadz yang amanah, menjawab pertanyaan tidak mengikuti hawa nafsunya, tentunya kita bisa bertanya padanya, dan kita pun dapat menanyakan alasannya, dali-dalil, dsb.

bahkan di zaman Rasulullah, jangan dibayangkan semuanya mengetahui fiqih, jika yang bisa mengakses langsung ke Rasululah maka dapat ditanyakan, tapi yang di Yaman?akhirnya mereka menanyakan kepada sahabat yang diutus Rasulullah ke kota tersebut. Jadi bisa kita mencarinya ke sumber-sumber yang terpercaya seperti situs-situs atau lainnya.

kaidahnya, 4WI menginginkan kemudahan, bukan kesukaran, dan juga 4WI tidak akan memberikan beban melebihi kemampuan hambanya, maka kita boleh mengambil pendapat yang lebih ringan (tentu pendapat tersebut didasari dengan alasan yang kuat). Pendapat pun bisa berubah sesuai dengan perbedaan waktu dan lingkungan (saat Imam syafii, di Irak dan Mesir), Imam Syafi’i mengeluarkan pendapat baru saat belau berpindah tempat tersebut.

Alhamdulilaahirrabbil’alamiin

sumber:kajian Online  oleh Ust. Jailani Salam di Tokyo.


me VS ajumma

April 19, 2009

Bukan lagi me Vs Mom, ini trend terbaru di Korea, “Me VS ajumma” 🙂

sebelum berlanjut, sebenarnya, siapakah ajumma ini?apa itu ajumma?

ajumma yang dalam tulisan hangul adalah 아줌마, dalam bahasa Indonesia dapat diartikan “ibu-ibu” dan dalam bahasa inggris diartikan sebagai auntie. namun jika kita ingin memanggil sang ibu-ibu, bukanlah dengan menyebutnya Ajumma, tapi dapat dilembutkan dengan ajumoni(아주머니) atau imo (이모).

Sudah cukup tergambar bukan siapakah ajumma itu? 😉 kalau masih samar-samar, bisa dilihat di foto berikut :p

images1

Ajumma di Korea, khusunya di daerahku cukup banyak, selain banyak pula kakek dan nenek :p tapi jangan sangka, para ajumma di sini sangatlah menjaga penampilan dan terpenting adalah berat badan, jadi tidak heran kalau ibu-ibu disini langsing bin slim.he2. 🙂

hal lain yang kutemui, para ibu disini mayoritas dapat mengendarai mobil, menyetir maksudku. Keahlian menyetir diperlukan untuk berbelanja, menjemput anak, dan melakukan aktivitas lainnya. Selain itu, mayoritas keluarga disini tidak memiliki servant (pembantu rumah tangga), karena harganya yang wuihhh. hanya wealth family yang mampu menyediakan, itu pun biasanya pembantu tidak stay at home, tetapi pulang-pergi dan pembantu tersebut bukanlah pekerja yang didatangkan dari negara lain tapi local produk dalam negeri (read:orang korea).

Umur rata-rata wanita Korea menentukan hidupnya, untuk menikah atau tidak adalah di masa-masa 27 tahun sampai 29 tahun.ada hal besar yang membedakan antara wanita menikah dengan mereka yang memilih tidak menikah. Umumnya para wanita Korea yang memilih menikah, dapat dikatakan sudah menisbatkan hidupnya untuk keluarga, konsekuensi terbesar adalah tanpa pembantu, ia harus siap menjalani aktivitas rumah tangga, melakukan household, dan membesarkan putra-putrinya. Budaya pria Korea dahulu dan sekarang sudah cukup berbeda, dahulu, para suami tidak mau membantu istrinya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mereka berpikir, itu adalah tugas sepenuhnya sang istri. Namun saat ini, sediki-sedikit mulai berubah, walaupun masih banyak ditemukan situasi seperti pemikiran diatas, sehingga dapat dibayangkan tanggung jawab yang dipikul seorang istri di Korea. Syukurlah di Indonesia pemikiran seperti ini tidak mendominasi pemikiran para pria, banyak kutemui para bapak, membantu istrinya memandikan anak mereka, mencuci piring sisa makanan, dan hal lainnya.

Dari segi pendidikan, para ajumma saat ini mayoritas berpendidikan S1, bahkan tak jarang ku temui para ajumma yang telah menyandang gelar S2 dan melanjutkan ke S3. Apakah mereka dosen? bukan, mereka hanya wanita yang menikah dan tetap bekerja menjalankan karirnya 🙂

Bagi ajumma yang kujelaskan diatas, dapat terlihat bahwa potensi seorang wanita tidak berakhir sesaat mereka berkeluarga. Namun, banyak juga kutemui, para ajumma tidak memiliki informasi yang lebih terhadap kondisi diluar Korea dan terhadap multiculture yang saat ini ada. Lihat saja saat mereka bertemu dengan orang asing, banyak kutemui sebagian besar mereka takjub melihat perbedaan yang ada pada orang asing. even dari perbedaan wajah, tinggi badan, bahasa, dan bahkan perbedaan style dalam berpakaian. Hal yang kurang nyaman bagi orang asing di Korea (khususnya yang bukan di kota besar), ajumma akan melihat perbedaan tersebut, dimulai dari ujung rabut, hingga ujung kaki, bahkan tak jarang saat orang asing tersebut sudah berlalu, ajumma masih saja melihat dengan takjub ke arahnya.

Dalam kondisiku sebagai “orang asing” (aih gaya betul, dan bukan bule pastinya), ajumma tidak segan-segan untuk diam, berhenti sejenak, mendekat ke arahku, dan  duduk disampingku, hanya untuk menanyakan style berpakaian dimulai dari pertanyaan ini apa?untuk apa?dari mana?setiap hari seperti ini? empat pertanyaan ini termasuk dalam 4 pertanyaan terfavorit yang kerap kali ditanyakan. “ah, ini dia waktuku memperkenalkan Islam kepada wanita disini”. inilah yang selalu muncul di benakku dan membuatku tidak bosan saat pertanyaan-pertanyaan diatas menghampiri 🙂 Ada pertanyaan favorit tambahan jika musim panas tiba (여름), yaitu “itu kan panas! kenapa musim panas seperti ini menggunakan pakaian seperti itu?”. ah, lagi-lagi ku mulai dengan tersenyum, dan berkata, “tidak apa-apa (괜찮아요)” , jika sang ibu mendekat, duduk, dan bertanya lebih jauh barulah kujelaskan hal-hal sederhana.

Itulah para wanita disini, AJUMMA, mereka memiliki banyak sekali kelebihan, namun disisi lain, mereka pun masih minim dari sisi informasi, terlebih lagi terkait dengan multiculture, dunia Islam. Menjadi daya tarik tersendiri untuk mengambil pelajaran baik dari para ajumma di sini dan lebih ‘mendekat’ kepada mereka 🙂

” Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Hal itu agar mereka lebih mudah dikenal dan karena itu mereka tidak diganggu”

(al-Ahzab, 59)


Lebaran ala Korea? (busan i’m coming)

October 9, 2008

Puasa 30 hari, alhamdulilah terlewati dan dapat bertemu dengan hari yang fitri, di beberapa daerah yang dekat dengan masjid, semarak ramadhan juga dirasakan seperti di Indonesia; ifthar bersama, i’tikaf juga diadakan oleh pengurus masjid. tapi apa daya, selama di sini, tidak melakukan i’tikaf, karena dominan para muslim saja yang melakukan i’tikaf di musholla terdekat disini.(musholla terdekat disini terletak 1 jam dari tempat tinggal, dan musholla itu adalah ruko yang disewa, terletak di lantai 4)

Idul Fitri 1 syawal 1429H tahun ini ditetapkan bertepatan dengan 1 oktober 2008. Jika melihat di kalender, ternyata 1 oktober tidak jatuh di akhir pekan, apalagi berharap tanggal merah (akhirnya dimerahin sendiri aja kalendernya..hehe) 😉

Penjelajahan pertama dilakukan dengan memastikan waktu salat ied. Ternyata disini tidak sepagi yang dilakukan di indonesia. kalau di rumah, dari pukul 6.30 kita biasa sudah bersiap-siap, mem-booking tempat salat dengan menggelar sajadah atau bahkan koran, namun disini salat ied dilakukan tepat pukul 10pagi KST.

Awalnya ingin menginap saat malam takbiran, tapi karena kondisi, akhirnya pasukan masan (pasukan masan ini terdiri atas 3 prajurit tempur..hehe 🙂 bersiap kumpul di terminal depan kampus pukul 7.10pagi, dan bus yang menuju busan ternyata berangkat pukul 7.26 (selalu memantau jam niy.. 😉 perjalanan 1 jam, alhamdulillah sampai di sasang terminal pk8.30. langsung berjalan secepat kilat ke arah stasiun subway sasang untuk menuju dusil, melihat 3 orang aneh (ups..asing maksudnya), sang pegawai tiket subway langsung serta merta mengambil uang kami dan menarik kami ke mesin tiket terdekat. pffuih..”padahal sendiri juga bisa kok..”, tapi..alhamdulillah..dibantu oleh orang tapi kok malah tidak bersyukur sih?

melihat peta, transfer subway, naik turun tangga, sempat salah jalan saat transfer, tapi alhamdulillah tersadar sebelum subway yang salah itu datang.. yap! tepat pk.9.30 sampai di dusil, walaupun pernah sekali ke sana, tapi orang yang satu ini gampang sekali kehilangan arah..hehe, jadilah kita mengikuti rombongan-rombongan yang kita ramalkan memiliki tujuan sama untuk ke dusil. bisa ditebak rombongan yang seperti apa?yap tepat bro, rombongan orang-orang berwajah pakistan, orang asing yang memakai baju rapih, beberapa ada pula yang membawa sajadah,dan di akhir, ternyata bertemu dengan mba maria dan mas dicky (suami istri mahasiswa indonesia), saling taqobal-taqobbalan 😉 , langsung cabuttt ke dusil..

Al fatah i’m coming..!!

Di depan pintu masuk Alfatah, terdapat bazar berbagai kebutuhan muslim dan ternyata barisan shaf sudah mencapai batas gerbang lapangan menuju pintu gerbang keluar..”wuihh.. rame nya..alhamdulillah”, para pengurus saat melihat ada dua muslimah yang nyasar..hehe (aku dan mba maria), segera memasang garda dan mengambil kuda-kuda dengan jurus 1 kata, “PERMISI”. hihi..menelusuri shaf-shaf yang sudah terbentuk, sang pengurus masjid yang juga orang indonesia, menggiring kami berdua menuju tempat khusus muslimah.

Karena kondisi juga, kami akhirnya menunggu di ruang keputrian Al-fatah, disana sudah ada mba-mba yang juga bernasib sama, tidak dapat salat saat itu, dan akhirnya kami menjadi penjaga! penjaga makanan..hehe..asik..

Tiba-tiba saat menungu dan berfoto-foto ria, dan mengobrol ala obrolan indonesia..hehe, datang seorang muslimah,  “assalamu’alaikum, annyong haseyo, oddi yoja yebe… etc” wuihh saat itu ternyata yang datang seorang muslimah asli korea..wahhh..senangnya.. 🙂 dengan berbekal bahasa korea yang pas-pas-an dan nge-pas :), langsung lah menjawab, “apa sudah wudhu? tempat shalatmuslimah di sebelah sana”. Tak lama datang wanita korea, awalnya dikira sama dengan yang tadi, ternyata yang ini, ia bukan muslim, tapi ingin tahu bagaimana kondisi idul fitri dan rangkaian salatnya. Mencari-cari jilbab di lemari, alhamdulillah dapat juga kerudung merah, langsung saja dikasih ke mba-mba ini, dan diberitahu bagaimana cara menggunakannya 🙂

Salat ied selesai, ternyata ada 2 orang muslimah lainnya asli korea.satu orang menggunakan bergo seperti yang biasa digunakan oleh muslimah indonesia, seorang yang lain lagi menggunakan kerudung.. senangnya 🙂

tak kalah senang, bertemu dengan teman-teman, saudari-saudari muslimah lainnya, khususnya muslimah indonesia, di sudut ruang satu, langsung berkumpul para muslim pakistan, di ruang lainnya berkumpul muslim.. ?heumm kurang tau mereka dari negara mana. dan kami-kami? karena lapar melanda, langsung saja memesan nasi kotak yang dijual oleh pengurus masjid. berharap ketupat, opor ayam, semur lengkap dengan sayur labu siam.. tapi ternyata…

ternyata menemui sang ayam goreng, nasi dan lalapan..hiks.. kangen ketupat!! (hey harus tetap alhamdulillah dong..)

makan selesai, maaf-maafan selesai, lanjut dengan berfoto-foto. dibawah ini ada beberapa foto yang ditampilkan 🙂

foto-foto selesai, ternyata pasukan yang lain sudah sampai ke stasiun subway untuk membunuh waktu(ceilee..hehe) ke Somyon, down town barunya seoul untuk makan-makan. lho? udah makan kok makan-makan lagi? pelampiasannn..hehe (pasukan yang satu masih kelaparan, jadilah kita yang sudah makan berkorban untuk makan lagi..hihi 🙂

Satu-persatu menerima telepon dari keluarga, ada pula yang menelepon ke rumah, dan ada juga yang sedih karena baterai handphonenya habis..hiks..

makan..makan.. makan//makan.. yap..ritual makan-makan selesai, akhirnya kita harus berpisah di stasiun subway.. hari masih siang, pasukan masan ingin segera pulang karena salah satu prajurit harus mengajar. tapi ada satu prajurit bandel yang tidak mau pulang, akhirnya nemplok dulu ke universitas shilla, .. huehehe. dilanjutkan berkunjung ke kampus liu, dan dengan pedenya masuk ke dorm, tapi dengan pedenya juga pak ajossi (lho?), sang penjaga dorm memanggil.. huaks..hehe.. tapi tetap.. dengan pe de nya menjawab pertanyaan dan meyakinkan “han si sam ship bun..”,1,5 jam aja kok pak, abis itu keluar lagi..” melihat tampang melas, si ajossi akhirnya mengizinkan.. hehe :p

selesai pengecekan..(lho?), maksudnya selesai berkunjung ke dorm, kembali ke sasang, dan berbelanja lebaran menemani liu.. hiks..berharap ada ucapan selamat idul fitri, tak ada sama sekali tulisna itu terpampang di sepanjang jalan..hiks..

belanja selesai, berkunjung selesai, akhirnya bus menuju masan memanggil..

yap..terlemparlah di bangku bus, dan kembali menuju habitat awal..hehe

1 syawal tahun ini?? alhamdulillah ya ALLAH..masih engkau pertemukan aku di hari fitri Mu.. 🙂


ini dia masjid-masjid di korea..

September 15, 2008

setelah 2 bulan tinggal di korea, barulah dapat datang ke masjid..

pertama, mengunjungi masjid di itaewon -seoul,

you know what,  this was the first time for me to see the usual building which we can see easily in Indonesia..

mosque..

lets see it..


and some moslem stores


Setelah itu..beberapa bulan kemudian dilanjutkan ke busan..

ini dia masjid busan, terletak di dusil, 1 jam dr sasang terminal dilanjutkan naik subway

saat ini sedang dibangun masjid di daerah changwon, perencanaannya januari awal sudah selesai..mudah2an saja ya..^^dan masih ada dua masjid lagi, masjid di gwangju belum terkunjungi nih..dan satu lagi yaitu masjid di chonan..heumm.. kapan ya??


Muter-muter nyari udang.. Ramadhan kini telah datang.. ;)

September 13, 2008

Muter-muter nyari udang..

Ramadhan kini telah datang..

Ramadhan tahun ini, sungguh jauh berbeda dengan ramadhan-ramadhan sebelumnya, masih teringat saat tahun lalu ber ramadhan di rumah, berkumpul lengkap bersama keluarga, mengikuti kegiatan2 keislaman, ifthar bersama dengan banyak teman dan sahabat, dan tak lupa mudahnya mencari es kelapa muda, kolak, dan es campur (wuiiihh..hihi), tapi ternyata tak ada yang menduga ramadhan kali ini terperosok ke negeri nun jauh dari budaya Islam.

Berpuasa yang hanya dijalani oleh 3 orang muslim dalam 1 kampus, lokasi musholla yang berbeda kota, dan tidak ditemuinya kolak, es kelapa muda dan es campur, awalnya memberi suatu kekhawatiran tersendiri. Mengapa tidak, nuansa ramadhan yang diimpikan dan biasanya sellau hadir, tidak hadir disini.

pertanyaan selanjutnya, jika begitu?lantas mau bagaimana? pulang kampung hanya untuk mengembalikan rasa itu? ah bukan solusi tepat sepertinya, dimana masa-masa semester baru muncul bersamaan dengan awal ramadhan.

Akhir yang dipilih adalah, “ciptakan saja nuansa ramadhan itu!” yap, ciptakan saja! nuansa, suasana merupakan suatu hal yang dapat diciptakan. Menyiasati salat isya dan tarawih berjamaah dengan mengajak rekan ber-3, kami berencana melakukan tarawih dan isya secara berjamaah di ruangan belajar kami, ifthar pun bisa dilakukan bersama-sama, atau dapat juga mengajak teman-teman korea(non muslim) untuk makan bersama di jam saat berbuka, menemani hari-hari dengan mendengar murottal, dan lainnya, sungguh dapat menimbulkan nuansa ramadhan di negeri yang “gersang” ini..

Meyakini bahwa ALLAH yang membuat skenario besar pada hidup kita.. meyakini bahwa tersimpan banyak hikmah dalam setiap bagian kehidupan.. dan meyakini bahwa ramadhan kali ini, dimanapun kita berada, apa yang diberikan olehNYA (keutamaan, pahala dan nikmatnya)tidaklah berbeda..dan terakhir, meyakini bahwa mungkin ini menjadi ramadhan terakhir.. lalu mengapa hanya berputar pada pertanyaan “kok begini ya,,?? kok ga ada ini ya..?? kok..kok..” ah rasanya tidak berguna di saat Ramadhan ini telah hadir..

Semoga ALLAH memberi kemudahan dan mengembalikan rasa yang diimpikan dengan cara yang berbeda… 🙂