Cuplikan 4-fiqih mandi

July 31, 2008

setelah 3 episode kemarin kita membahas WHAT and WHY..
bagaimanakah tata cara mandi (ingat.. bukan M A N D I biasa..:) yang mengkuti kaidah yang benar? apa saja sunah2 dalam mandi??
btw sebelumnya, jadi ingat..
definisi sunah yang kita tahu slama ini, “dikerjakan mendapat pahala, tidak dikerjakan gapapa”, tapi ternyata itu definisi yang “nrimo”.. definisi yang membuat kita semangat tanpa menyalahi arti dari sunah itu sendiri, sunah adalah “dikerjakan memperoleh pahala, tidak dikerjakan.. RUGI lho..”
ok.. les start..
don’t forget to say.. bismillahirrahmaanirraahiim..
🙂

adapun rukun-rukun mandi (masih ingat pengertian rukun mandi? yap betul! jika tidak dikerjakan, maka mandinya tidak sah menurut aturan) yaitu:

1. BERNIAT
berniat ini yang membedakan ibadah dari kebiasaan atau adat.Jadi ingat saat dulu kita sering berpendapat bahwa niat adalah setelah kita mengucapkan “Usolli fardhu…”, padahal niat semata-mata adalah pekerjaan hati. Oleh sebab itu, kebiasaan yang dilakukan umat Islam, seperti menuturkan lafazh niat melalui
lisan tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

2. Membasuh Seluruh Anggota karena berdasarkan firman ALLAH
” …….. Jika kamu junub, maka mandilah….” (Al Maidah: 6) selain itu sahabat muslimah juga bisa membuka di surat Albaqarah:222. Artinya adalah, hingga mereka mandi terlebih dahulu. Dalil yang mnunjukkan bahwa yang dimaksud dengan bersuci itu adalah mandi, ialah firman Allah ta’ala,
” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu menegerti apa yang kamu ucapkan.(Jangan pula hampiri masjid) sedang dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi..” (An-Nisa :43)
Dan yang dimaksudkan dengan hakikat mandi itu adalah membasuh seluruh anggota badan (inga-inga SELURUH anggota badan..)

lalu teknis yang dicontohkan Rasulullah seperti apa?
semua itu ada di sunnah mandi berikut…

SUNNAH-SUNNAH MANDI
Sesorang yang mandi harus memperhatikan pekara-perkara uang pernah dilakukan Rasulullah SAW pada saat mandi,yaitu sebagai berikut:

  1. Mulai dengan mencuci kedua tangan sebanyak 3 kali
  2. Kemudian membasuh kemaluan
  3. Lalu berwudhu secara sempurna seperti halnya wudhu pada saat ingin mengerjakan shalat. Ia juga boleh menangguhkan membasuh kedua kaki hingga selesai mandi, bila ia mandi di tempat tembaga dan sebagainya.
  4. Kemudian menuangkan air ke atas kepala sebanyak 3 kali sambil menyelang-nyelangi rambut agar air dapat membasahi urat-uratnya.
  5. Lalu mengalirkan air ke seluruh badan dengan memulai sebelah kanan, lalu sebelah kiri tanpa mengabaikan kedua ketiak, bagian dalam telinga, pusat, dan jari-jari kaki serta menggosok anggota tubuh yang dapat digosok.

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a,

“Apabila Nabi SAW mandi junub, maka beliau memulai dengan mencuci kedua tangan, lalu menuangkan air dengan tangan kanan hingga ke tangan kirinya dan mencuci kemaluannya. kemudian berwudhu seperti halnya ketika hendak shalat. Lalu mengambil air dan menyiramkannya kepada jari-jemarinya ke dalam urat rambut hingga bila air terasa membasahi kulit, maka beliau meraupkan kedua telapak tangan lagi, lalu disiramkan ke atas kepalanya sebanyak tiga kali. Setelah itu beliau menuangkan atau menyiramkan air ke seluruh tubuhnya.” (H.R Bukhari dan Muslim).

ok sahabat muslimah, semua sudah disampaikan tanpa ada rahasia apa-apa lagi diantara kita… (tidak ada dusta diantara kita.. wadow jadoel bener..hehe)..

pesan dr blog ini, coba kita ingat-ingat lagi, ketika kita melakukan mandi besar, setelah selesai Haid/junub, apakah sudah sesuai dengan yang Rasulullah contohkan?? jika belum, yuk.. kita sempurnakan cara mandi kita.. karena ketika mandi kita tidak sah, tidak memenuhi rukun, maka ibadah-ibadah yang kita lakukan akhirnya akan tidak sah pula karena kondisi kita masih dalam keadaan junub..

wallahu’alam..
sampai bertemu lagi di pembahasan selanjutnya..

salam ukhuwah dan sayang untuk sahabat muslimah semua


Cuplikan 3-fiqih mandi

July 31, 2008

Masih melanjutkan kisah tentang “M A N D  I” bukan mandi biasa,…

episode 3 kali ini akan membahas tentang larangan wanita yang sedang junub untuk menetap di masjid..

are u ready?? check this out..

dont forget to say.. bismillahirrahmaanirraahiim

Menetap di Masjid

Haram bagi orang junub menetap di masjid karena hadits Aisyah r.a,

” Rasulullah saw datang ke masjid, sementara bagian depan rumah para sahabatnya ada menjorok ke dalam masjid. Rasul SAW pun bersabda,’pindahkan bagian depan rumah-rumah ini dari masjid! Kemudian Rasulullah saw. pun masuk, sedangkan orang-orang itu belum berbuat apa-apa karena mengharapkan keringanan dari Nabi saw. Akhirnya, Nabi saw. pun keluar menjumpai para pemilik rumah itu, katanya,’Palingkan rumah-rumah ini dari masjid karena aku tiada membolehkan perempuan haid dan orang junub memasuk masjid.”(HR Abu Dawud)

Dari Ummu Salamah r.a,

Rasulullah saw masuk ke halaman masjid dan berseru sekeras suaranya,’Sesungguhnya masjid ini tidak boleh dimasuki orang haid dan orang junub! (HR Ibnu Majah dan Thabrani)

Kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa orang haid dan orang junub tidak boleh tinggal atau menetap di dalam masjid, tetapi keduanya diberi keringanan untuk melintasnya saja, karena firman ALLAH ta’ala;

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat sedang dalam keadaan mabuk, sehingga kamu menegrti apa yang kamu ucapkan (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekadar berlalu saja, hingga kamu mandi..“(An-Nisa:43)

Dan diterima pula dari Jabir ra yang berkata,

“Masing-masing kami biasa melewati masjid dalam keadaan janabat, tetapi hanya melintas.”(HR Ibnu Syaibah dan Sa’id bin Manshur dalam buku Sunan-nya)

Zaid bin Aslam berkata,

” Para sahabat Rasulullah saw biasa berjalan di masjid sedangkan mereka dalam keadaan junub.”(HR Ibnu Mndzir)

Dari Yazid bin Habib bahwa ada beberapa orang diantara laki-laki Anshar; pintu rumah mereka menghadap masjid. Mereka sering dalam keadaan junub dan tidak mendapatkan air. Mereka tidak menemukan jalan lain untuk keluar melainkan melalui pintu masjid. Lalu ALLAH menurunkan ayat“(Janganlah pula menghampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja”(HR Ibnu Jabir)

Aisyah ra berkata,

Rasulullah bersabda kepadaku, ‘Ambilkan timba untukku dari masjid itu!, Jawabku,’Aku sedang haid.’Nabi saw bersabda,’Haidmu itu bukanterletak dalam tanganmu.‘” (HR. Jama’ah kecuali Bukhori)

Dan dari Maimunah ra,

“Rasulullah saw biasa masuk menjumpai salah seorang di antara kami, meski kami sedang haid. Lalu Nabi saw meletakkan kepalanya di pangkuan istrinya yang haid itu, lalu membacakan Alquran. Setekah itu, salah seorang di antara kami berdiri sambil membawa timbanya, lalu meletakkannya ke dalam masjid, sedang ia dalam haid“(HR Ahmad dan Nasa’i dengan kesaksian-kesaksian yang mengukuhkannya)

Kesimpulannya, orang(wanita atau laki2) yg sedang haid, tidak diperbolehkan masuk ke dalam masjid, namun dibolehkan untuk berlalu saja (pengertian “berlalu” bisa dilihat di hadits2 di atas)

dari buku fiqih wanita pun menuliskan hal2 diatas dan memberikan kesimpulan yang sama.

sebagai tambahan, saat bertanya ke ustadzah, untuk wanita, boleh/tidaknya ke masjid bukan dari alasan “kan gak tembus”, dst. pengertiannya kotor itu bukan karena “tembus” atau tidak, tapi memang saat kita sdg junub/haid, artinya dalam keadaan kotor.

dan mengenai mengikuti acara yg diadakan di dalam masjid,dari narasumber seorang ustadzah beliau menjelaskan,

kita boleh mengikutinya jika benar2 saat kita tdk hadir di acara tersebut, maka kita tdk akan bs memproleh ilmu yg diberikan.(alternatif media lain seperti buku, radio, TV, tidak bs memenuhi kebutuhan ilmu yg disampaikan di masjid tersebut)

wallahu’alam

yup, itu dia penjelasan lengkap kenapa saat kita sedang junub/haid, maka kita tdk dibolehkan shalat, thawaf, membaca Alquran, menyentuh mushaf Alquran, dan menetap di masjid..

moga bisa menambah ilmu sahabat muslimah sekalian..^^

episode selanjutnya kita akan membahas tata cara “M A N D I”..

salam cinta dan ukhuwah

wassalamu’alaikum wr.wb

sumber: Sayyid Sabiq.Fiqih Sunnah Jilid 1.2004

Fiqih Wanita


Cuplikan 2 -fiqih mandi

July 31, 2008

Masih ingat dengan topik bahasan kemarin?? yap benar!!!
yaitu ttg “M A N D I” bukan mandi biasa..

dan sampai ke dalam bahasan hal2 yang tidak boleh dilakukan bagi seseorang yang sedang junub.

  • Mengerjakan shalat
  • Thawaf
  • Menyentuh mushaf Alquran dan membawanya
  • Membaca Alquran
  • Menetap di masjid

Mari kita bahas lebih mendalam ke poin 3, 4, dan 5.. Lets startdon’t forget to say..”bismillaahirrahmaanirraahiim

Menyentuh mushaf Alquran dan membawanya

Hukum haram ini merupakan kesepakatan para imam dan tidak seorang pun diantara sahabat yang menyangkal pendapat ini, akan tetapi Dawud dan Ibnu Hazm membolehkan orang junub untuk menyentuh Alquran dan membawanya. Mereka berpendapat bahwa tidak ada halangan bagi orang junub untuk menyentuh dan membawa Alquran. Alasannya adalah sebuah peristiwa yang ercantum dalam Shahih Bukhori dan Shahih Muslim bahwa Rasulullah mengirim surat kepada kaisar Heraklius yang di dalamnya tertera, “Dengan Nama ALLAH yang Maha Pengasih lagi Penyayang”, hingga sabdanya.Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah [berpegang] kepada suatu kalimat [ketetapan] yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak [pula] sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri [kepada Allah]“(Al-Imran:64)

Ibnu Hazm mengatakan,”Lihatlah dengan baik, Rasulullah SAW telah mengirimkan surat yang memuat ayat tersebut kepada orang-orang Nasrani, sedangkan beliaupasti mengetahui bahwa mereka akan menyentuhnya”.

Pendapat ini disanggah mayoritas ulama bahwa keadaan ini hanya merupakan surat dan memang tidak ada halangan untuk menyentuh apa saja yang memuat ayat-ayat Alquran tersebut seperti surat-surat, kittab fiqih, kitab-kitab tafsir, dll. Semua itu tidak ada keterangan menyatakan haram menyentuhnya..
so, in conclusion, jika sahabat muslimah membawa Tafsir Alquran, Alquran tarjamah, Buku-buku doa,.. don’t worry..itu dibolehkan sesuai penjelasan diatas

Membaca Alquran

Menurut Jumhur ulama, orang junub diharamkan membaca ayat-ayat Alquran, berdasarkan hadits Ali.r.a,
“Tidak ada suatu perkara pun yang dapat menghalangi Rasulullah saw dari membaca Alquran kecuali dalam keadaan junub.” (HR Ash-habus sunan serta dishahihkan oleh Tirmidzi dan lain-lainnya)

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari mengatakan, ” Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa sebagian perawi hadits tersebut dhaif. Akan tetapi pendapat yang benar, ia termasuk hadits hasan yang dpat digunakan sebagai hujjah dalam bidang ibadah.”
Ali juga berkata,
Aku melihat Rasulullah saw berwudhu kemudian membaca sesuatu dari Alquran. Beliu bersabda’Demikianlah keadaan orang yang tidak Junub, yaitu boleh membaca Alquran. Tetapi orang junub tidak dibolehkan membaca Alquran meskipun 1 ayat.” (HR Ahmad, Abu Ya’la dan inilah susunan kata-katanya. Menurut Haitsami, perawi-perawinya dapat dipercaya).

Syaukani mengatakan, “seandainya hadits tersebut benar-benar shahih, maka ia dapat digunakan sebagai alasan  untuk mengharamkan Alquran bagi orang yang junub. Mengenai hadits yang pertama, tidak dijumpai dalil yang menunjukkan keharamannya. Karena maksudnya hanyalah bahwa Nabi saw meninggalkan bacaan ayat-ayat Alquran sewaktu berjunub. Keterangan seperti itu tidak dapat dijadikan sebagai alasan hukum makruh, apalagi untuk mengharamkannya.”

Sementara itu Bukhari, Thabrani, Dawud, dan Ibnu Hazm berpendapat bahwa orang junub dibolehkan membaca Alquran. Bukhari mengatakan, “Menurut Ibrahim, seorang perempuan haid tidak dilarang untuk membaca Alquran. Begitu juga pendapat Ibnu Abbas bahwa orang yang junub tidak dilarang untuk membaca Alquran, Sebab Nabi saw. selalu berdzikir kepada ALLAH pada setiap saat. Dan sebagai tambahan dalam masalah ini, al-Hafizh mengatakan “Menurut pengarang buku ini (Bukhari), tidak ada satu hadits shahih pun yang membahas masalah ini, yakni melarang orang junub dan perempuan haid membaca Alquran”

In conclusion, ada berbagai pendapat mengenai hal ini, silahkan sahabat muslimah memilih diantara banyak pilihan (hasil ijtihad) dari ulama yang ada..


Cuplikan 1-fiqih mandi

July 31, 2008

Cuplikan ini sederhana, namun mungkin ini adalah hal-hal yang sering dialami dan langsung benar-benar dibutuhkan penjelasannya untuk kita sebagai muslimah 🙂

Nah.. untuk edisi pertama kali ini, topik yang akan dibahas adalah mengenai

… Mandi…

Mandi? hua.. ini bukan sekedar mandi yang kita lakukan tiap hari..

judulnya, bukan mandi biasa..(halah, kayak sinetron apa.. gitu;)

Ok. Lets start.. jangan lupa “bismillahirrahmaanirrahiim


Mandi

Mandi artinya adalah meratakan air ke seluruh tubuh, sesuai dengan yang telah disyariatkan ALLAH:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan [basuh] kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah.. (Al-Maidah:6)
Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri [1] dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci [2] Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.(Albaqarah:222)

Ada beberapa kondisi yang akhirnya membuat seseorang/kita harus mandi:

  1. Keluar mani disertai syahwat, baik pada waktu tidur maupun ketika bangun, laki-laki maupun wanita.
  2. Hunbungan suami istri (hubungan kelamin)
  3. Haid dan nifas jika sudah berhenti
  4. Mati, jika seseorang menemui ajal, maka ia wajib dimandikan.
  5. Orang kafir jika sudah masuk Islam

Keterangan lebih jelas untuk kondisi 1 adalah :

  • Jika mani keluar tanpa syahwat, tetapi karena sakit atau cuaca dingin, maka ia tidak mewajbkan mandi
  • Bila seseorang bermimpi, tetapi tidak menemukan bekas air mani maka ia tidak wajib mandi.
  • Bila seseorang bangun tidur, lalu menemukan basah tetapi tidak ingat bahwa ia bermimpi, maka ia wajib mandi
  • Jika seseorang merasakan hendak keluarnya mani pada saat memuncaknya syahwat, tetapi ia menahan kemaluannya hingga ia tidak keluar, maka orang tersebut tidak waji mandi
  • Jika ia melihat mani pada kainnya, tetapi tidak mengetahui waktu keluarnya dan kebetulan sudah shalat, maka ia wajb mengulangi shalat dari waktu tidurnya yang terakhir, kecuali bila ada keyakinan bahwa keluarnya sebelum itu sehingga ia harus mengulangi dari waktu tidur yang terdekat di mana mani itu mungkin keluar


Saat kondisi diatas terjadi, artinya kita sedang dalam kondisi junub..
saat kondisi junub, ada beberapa hal yang tidak boleh kita lakukan.. apa saja?

  1. Mengerjakan shalat
  2. Thawaf
  3. Menyentuh mushaf Alquran dan membawanya
  4. Membaca Alquran
  5. Menetap di masjid


kalau tidak boleh shalat, itu sudah pasti, untuk thawaf, saat ini kondisinya kan sedang tidak berhaji, lalu untuk tidak boleh membawa mushaf Alquran? kalau Alquran terjamah bgmn?sama dengan mushaf Alquran?
dan kalau tidak boleh membaca Alquran, dan tidak boleh menetap di masjid??

penasaran?? ingin tau penjelasan lengkap selanjutnya??? InsyaALLAH akan dilanjutkan dalam topik bahasan Jumat depan..kalau masih penasaran? silahkan melempar wacana atau saling memberikan pandangan kepada sobat muslimah lainnya..

sekian dulu untuk episode kali ini..
InsyaALLAH kita bertemu Jumat depan..

wassalamu’alaikum wr.wb

sumber: Fiqih Sunnah Jilid 1, karangan Sayyid Sabiq

….ALLAH menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” (Albaqarah:185)