Supply Chain Management — get closer

September 25, 2008

Resume of some journals

Understanding Supply chain

Kaynack and Hartley find a direct relationship between management leadership, customer focus, management leadership, and supplier quality management. This demonstrates that leadership is essential to navigate cultural, process-oriented, and human resource practices that differ for firms all along the supply chain. Finally they found that the role of suppliers in assuring low defects levels in incoming materials not only affects quality downstream, it also affects inventory management practices as the need for safety stock to hedge against ths type of variation is obviated.

by using research, structural modeling, Yeung found that SSM is significantly related to quality management implementation but not to ISO 9000.  He also found that implementing QM might facilitate SSM. As a result he showed that QM is a foundation of SSM and a key requirement for continuous improvement extending to the supply chain. It is interesting that he found that ISO 9000 will not initiate SSM efforts SSM is primarily related to timely operations such as cycle time reduction and on-time delivery.

ISO 9000:2000 is important in SCM as it provides a mechanism for a supplier to document its quality system. Also supplier registration is often required by customers. Sroufe and Curkovic found that the reasons of non adoption of ISO 9000:2000 included uncertainty of benefits, risk of bureaucray, costs, and loss of face associated with failing to achieve registration. The four reasons in favor of adopting ISO 9000:2000 included customers, documentation, cost/benefits, and management involvement.

There are some case studied that they done, and the results show that companies that see registration as a game to keep business will not obtain the full benefitd of registration. Prospectors have the greatest opportunity for a competitive advantage from registration. Plants with lower levels of integration will often be reactors who buyers should avoid. Similarly buyers wanting to increase either ISO standards integration or quality assurance should seek out defenders and analyzers.

another research is by understanding of linkages between safety and quality performance. by sent surveys to companies in five SIC codes, Das, Padell, Behm and Veltri‘s analysis shows that saftey disconnect is related to operational performance in a negative linear manner. As disconnect increase and the safety environment deterioates, product quality also appear to suffer. It appears that an organizational system that permits poor safety performance also will lead to poor quality performance. Quality is affected  regardless of skill level.

Schroeder developed a definition of six sigma, “six sigma is an organized, parallel-meso structure to reduce variation in organizational processes by using improvement specialists, a structured method and performance metrics with the aim of achieving strategic objectives”.

more issues on SCM :

  1. Supply chain management models
  2. Supply chain constructs
  3. Supply chain frameworks
  4. Supply chain quality strategy
  5. Supply chain quality assurance
  6. Supply chain quality control
  7. Supply chain quality management
  8. Supply chain service

Supply chain risk management

Small and medium enterprises (also SMEs, small and medium businesses, SMBs, and variations thereof) are companies whose headcount or turnover falls below certain limits.

The impact upon business can be reduced if potential risks are proactively managed, and there is a well-conceived and constructed business continuity plan in place.

The accidents which are usually happened as a risks are:

Human error

two examples of human error cases are:NASA at 1999 and NCC(1996), and also there are some risk in IT aspect on the company, for instance, anti virus, firewall, back up, etc. and also there are some aspect which are responsible and could be pushed to mitigate the risks.

The review found that large companies exposure to risk appeared to be increased by inter-organizational networking. Having SMEs as partners in the supply chain further increased the risk exposure. SMEs increased their own exposure to risk by becoming partners in a supply chain and few had made an assessment and considering the need for business continuity planning when a company  is wxposed to inter-organizational networking.

Source: Thomas Foster, S. towards an understanding of supply chain quality management.2007.United States

Advertisements

DANA dalam Analisis Kebijakan

August 1, 2008

Kisah penggunaan DANA dalam satu contoh adanya penerapan kebijakan baru, akan coba secara sederhana di bahas disini


Apa itu DANA (Dynamic Actor Network Analysis)?

July 31, 2008

DANA..

atau lengkapnya adalah Dynamic Actor Network Analysis adalah salah satu jenis simulasi yang digunakan dalam policy analysis untuk mensimulasikan suatu kondisi dimana terdapat banyak aktor di dalamnya. Seperti yang sudah disebutkan bahwa simulasi adalah suatu tools (alat) untuk menampilkan suatu kondisi/setting yang kita buat. Seperti apa kondisinya, maka itu berdasarkan input yang kita berikan terhadap simulasi tersebut.

Menurut bung wikipedia,

Simulation is the imitation of some real thing, state of affairs, or process. The act of simulating something generally entails representing certain key characteristics or behaviours of a selected physical or abstract system.

Untuk menerapkan suatu sistem baru, maka diperlukan suatu ketepatan perencanaan, yang didalamnya menetapkan seperti apa kondisi yang memungkinkan sehingga sistem itu sendiri dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Ketika seseorang atau perusahaan memiliki perencanaan untuk mengaplikasikan suatu sistem dalam perusahaannya, maka saat sistem itu optimal, sesuai, tepat atau tidak digunakan, hal tersebut merupakan tantangan yang mau tidak mau harus dihadapi, ketika sistem tersebut tepat, maka perusahaan akan memperoleh keuntungan/target sesuai yang diharapkan. Tapi saat kondisi yang terjadi adalah sebaliknya, maka kerugian besar atau bahkan berhentinya sistem produksi menjadi ancaman dan risiko yang dihadapi pihak perusahaan.

Suatu perancanaan sebelum diterapkan pastilah ada suatu tahap uji coba. Tahap uji coba ini ketika kita memilih untuk menerapkan dalam lingkungan kecil yang didesain menyerupai rancangan baru, maka tetap akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Atau pilihan lain, hanya untuk menekan besar biaya, maka perusahaan cukup mempercayakan rancangan baru tersebut berdasarkan analisis forecast atau prediksi yang dibuat dengan hitungan matematis tanpa melihat seperti apa flow yang akan berjalan.

Maka untuk tetap melakukan uji coba, dengan berbagai macam input (kondisi yang kita set), dan tentu saja hanya membutuhkan biaya yang sedikit, simulasi adalah jawabannya. Berbagai macam simulasi ada dan dapat kita pilih sesuai dengan keinginan kita, dari simulasi statistik (Monte carlo, Crystall Ball), simulasi  sistem produksi(Pro model, Power sim), hingga ke simulasi analisis kebijakan(DANA).

Analisis kebijakan, dapat diabayangkan membutuhkan tidak hanya analisis secara kuantitatif tapi juga analisis secara kuantitatif, dan itu semua dapat disatukan oleh DANA.

Dalam DANA, terdapat banyak Actor, aktor adalah bagian dalam kebijakan (contoh:stakeholder) yang akan memperngaruhi pengambilan kebijakan tersebut. Terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui untuk dapat memperoleh hasil yang maksimal. Karena DANA bersifat semi kualitatif, maka kita harus dapat memperkecil ketidakpastian dengan memperisiapkan dari pra proses pengambilan data.

Dibawah ini merupakan user manual sederhana (made in dita:) dari penggunaan DANA itu sendiri:

Mengenai contoh aplikasi DANA, semoga bisa di ulas ditulisan selanjutnya,,tunggu ya..


Simulasi dalam Six Sigma

July 31, 2008

Six Sigma? semoga sudah tergambar sedikit mengenai hal tersebut dari tulisan sebelumnya..:)

sebelum kita berlanjut ke topik hari ini, coba kita kulik sedikit pengertian simulasi


Kenal Six Sigma Lebih Dekat

July 30, 2008

Yuk bicara lebih jauh tentang kualitas..

setelah di tulisan sebelumya dibahas mengenai apa itu kualitas, selanjutnya let’s talk about the tools. Total Quality Management, Plan-Do-Check-Action, Seven tools,Seven new tools dan Six Sigma, merupakan beberapa metode atau istilah yang digunakan perusahaan/industri dalam rangka meningkatkan kualitasnya.

Mari berbicara tentang salah satunya.. Six Sigma. Six sigma pertama kali diterapkan oleh Motorola, dan hingga saat ini, metode ini kerap digunakan oleh banyak perusahaan besar di dunia, seperti GE Company, SK Telecom, Hyundai, dll. Ingin ke arah jasa? yap, metode six sigma dapat juga digunakan di lingkup jasa, seperti rumah sakit, klinik,restoran. Contoh sederhana adalah ketika six sigma diaplikasikan untuk klinik mata. seperti yang sudah disebutkan mengenai definisi kualitas (apa yang diekspekatasikan oleh customer , dan setelah diselidiki, keinginan cuntomer adalah semakin cepatnya penyelesaian pelayanan, maka project six sigma ini terfokus pada hal diatas, yakni mengurangi waktu yang dihabiskan untuk menyelesaikan satu kali permintaan pelanggan.

Tahapan yang digunakan dalam Six Sigma dikenal dengan DMAIC (Define-Measure-Analyze-Improve-Control). Mari secara perlahan dan sederhana kita bahas satu persatu;

Define adalah tahapan awal yang sangat penting untuk mendefinisikan masalah/target dari pengurangan defect(cacat) atau kondisi yang tidak sempurna. Satu hal penting yang perlu diperhatikan saat fase define adalah sinkronisasi antara keinginan customer dengan strategi bisnis yang kita miliki.

Setelah fase define ini dilalui, selanjutnya adalah Measure yakni dilakukannya perhitungan untuk memastikan apakah selama ini pengurangan kesalahan(Defects) telah dilakukan? sehingga diperlukan metode yang tepat dan hasil yang akurat guna fase selanjutnya.

Mari berlanjut ke fase selanjutnya; Analyze. Tujuan dari tahapan ini adalah untuk menentukan hubungan antara sebab akibat. Di fase ini dengan menggunakan metode analisis yang ada seperti (7 tools-7new tools) akan kita dapati faktor2 apa saja yang menyebabkan hasil measure diatas diperoleh.

Improve, yaitu membuat peningkatan, pengoptimalan proses dan pembenahan di dalam proses yang menjadi penyebab terjadinya defects, atau ketidakoptimalan selama ini. Pilihan improvements yang dilakukan tergantung dari konsesus six sigma projects team dan kondisi (kesiapan) perusahaan itu sendiri. Pernah mendengar istilah DFSS?(design for six sigma)? DFSS merupakan salah satu hasi perkembangan dari Six Sigma.

Tahapan penutup adalah control, setelah peningkatan dilakukan, maka dibutuhkan suatu metode/alat untuk tetap menjaga perbaikan ini berjalan dimasa mendatang (Istilah yang sering digunakan adalah continuous improvement), dengan metode yang dipilih (umumnya adalah dengan control chart) dapat diketahui dengan cepat ketika terjadi suatu produk yang melewati batas toleransi yang dimiliki, sehingga proses perbaikan akan dapat langsung dilakukan.

Ada jenis lain dari Six Sigma. PErnah mendengar DFSS?Yap, DFSS(Design for Six Sigma) adalah perkembangan dari Six Sigma. DFSS  digunakan bagi mereka yang akan mengeluarkan produk baru. Dengan tahapan yang berbeda di bagian akhirnya, yaitu DMADV; Define-Measure-Analyze-Design-Verify.

Masih bersemangat meneruskan? yuk perlahan-lahan kita lihat perbedaan DMAIC dan DFSS..

Penggunaan DFSS di tiap perusahaan mungkin akan berbeda, karena DFSS bertujuan untuk menciptakan atau mendesain ulang sebuah produk dari suatu proses. Pada tahapan define pada DMAIC dan DFSS adalah sama, yakni menentukan tujuan akhir/goal, dilanjutkan dengan measure, measure disini adalah menentukan spesifikasi (desain, ukuran, dll) dari produk baru yang akan dibuat. Spesifikasi tersebut dapat bersumber dari data keinginan customer, membandingkan/benchmarking dengan perusahaan pesaing dan industri yang ada. Analyze dilakukan untuk menganalisis proses apa saja yang akan dibuat untuk memenuhi desain produk yang akan dibuat. Fase Design yakni setelah dipastikan dalam fase analyze maka di fase desain, kesemua proses dibuat lebih detail untuk memenuhi customer needs. Tahapan terakhir, yaitu varify adalah untuk mengukur performance dari desain dengan pemenuhan kebutuhan konsumen.

Diatas adalah penjelasan singkat tentang apa itu six sigma..

will be continued dengan topik selanjutnya..:)


Yuk bicara tentang Kualitas…

July 30, 2008

Kualitas..sering mendengar kata itu?

Duh lama banget ni makanan ga dateng-dateng.. restorannya ga berkualitas banget gini, sampe kita nunggu 1/2 jam..

atau..

Ini sepatu baru dibeli 2 minggu kemarin, masa sekarang sudah jebol.. kualitasnya rendah banget ni sepatu!

dua keluhan diatas terjadi pada dua hal yang berbeda, 1 keluhan yaitu di bidang jasa(service) dan keluhan lain pada produk jadi, yaitu sepatu. Tapi intinya adalah sama, yaitu buruknya kualitas produk tersebut.

Lalu, sebetulnya, apa kita sudah mengetahui definisi kualitas yang sesungguhnya?

berdasarkan definisi yang diperoleh dari bung wikipedia: )

quality can mean a high degree of excellence (“a quality product”), a degree of excellence or the lack of it (“work of average quality”), or a property of something (“the addictive quality of alcohol”).

definisi diatas menggambarkan, suatu produk dianggap sudah berkualiats ketika spec/jenis atau produk tersebut memenuhi high degree of excellence atau ketika akhir dari produk tersbeut tidak ditemui cacat.

Berbicara tentang kualitas, setiap orang memiliki definisi kualitas yang berbeda. Misalkan benda X, jika kita tanyakan ke 10 orang, mungkin akan diperoleh definisi yang berbeda-beda, ada yang mengatakan barang ini berkualitas karena desainnya dan warnanya yang trendi, ada pula yang mengatakan barang X ini berkualitas karena mudah diperoleh, lain lagi ada yang mengatakan karena harga yang murah. perbedaan tersebut terjadi karena setiap individu memiliki ekspektasi atau harapan yang berbeda terhadap suatu produk.

Sehingga dapat disimpukan secara umum, yakni suatu produk (jasa/industri) dikatakan berkualitas saat produk tersebut dapat memenuhi ekspektasi dari konsumen/customer.

Jadi sebagai contoh,ketika suatu restoran, meskipun rasa yang dimiliki tidak sehebat rasa yang dimiliki restoran-restoran bintang lima, dan juga tidak memiliki tempat seluas dan senyaman restoran lainnya, namun ternyata saat diselidiki ekspektasi apa yang diinginkan pelanggan, dan diperoleh pelanggan tidak bermasalah dengan rasa standar, namun mereka menginginkan kualitas pelayanan yang cepat (restoran tersebut berada di pusat bisnis kota sehingga pelanggan yang ada adalah mereka yang bekerja dan tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu). Maka ketika sang pemilk restoran menyadari hal tersebut dan mengatur segala hal yang terkait dalam pelayanan, sehingga dalam waktu 5 menit saja order dari pelanggan dapat segera dipenuhi, maka dapat dikatakan bahwa restoran tersebut berkualitas.

Lain lagi dengan pabrik sepatu, mungkin desain yang dimiliki merupakan desain umum yang juga dimlki oleh perusahaan sejenis. Namun ternyata ketika diselidiki keinginan pelanggan hanyalah sebuah sepatu olahraga yang harganya cukup terjangkau dengan waktu pemakaian yang cukup lama (Sepatu yang kuat), sehingga ketika sang pemilik pabrik memfokuskan ke dua hal diatas dan tercapai, maka dapat dikatakan sepatu tersebut berkualitas.

Tambahan diperoleh dari David Garvin (Harvard Business School), ia mendefinisikan dimensi dari kualitas itu sendiri; Transcendent, product based, user based,manufacturng based, atau Value based. Secara sederhana yang dimaksud transcendent adalah sesuatu yang sangat abstrak, berhubungan erat dengan perasaan; product-based meliputi komponen dan atribut yang dimiliki produk; User-based yakni saat konsumen/customer merasa puas, maka produk tersebut berkualiats; Manufcturing-based yakni ketika barang yang dihasilkan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan (berat, ukuran, dst), maka barang tersebut berkualitas; dan yang terakhir value-based yakni ketika produk memiliki nilai jual yang bersaing (harga), maka produk tersebut dikatakan berkualitas.

Untuk menghasilkan suatu produk yang dianggap berkualitas, Apakah seluruh dimensi diatas harus terpenuhi?

Short answer, NOP! tidak.. masing-masing pengusaha memiliki kekuatan/kelebihan di produk masing-masing, dan perlu cost (biaya) yang tinggi jika kita menginginkan kesemuanya terpenuhi.

Jika anda adalah seorang pengusaha ataupun seperti saya, seorang konsumen, mari lihat kembali  apakah produk yang kita hasilkan atau kita gunakan sudah berkualitas?

jawaban sederhana, jika telah sesuai dengan keinginan/harapan sang customer, maka Yap! selamat, produk anda sudah layak dikatakan berkualitas.

Masih takut berbicara tentang kualitas?~semoga tidak^^~